Yogyakarta (ANTARA) - Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, memiliki cerita menarik tentang aktivitas pengrawit dan gamelan. Di wilayah pinggiran tersebut, suara musik tradisional itu kerap terdengar di beberapa dusun.
Para pengrawit yang tergabung dalam kelompok kesenian mulai menghidupkan kembali suara gamelan dengan spirit yang sama, yakni agar warisan budaya itu tetap lestari.
Fenomena ini memang belum lama muncul. Padahal, wilayah tersebut kabarnya memiliki beberapa kelompok pengrawit dan gamelan yang usianya cukup tua, tetapi keberadaannya terancam oleh minat generasi muda yang terus berkurang terhadap budaya leluhur.
Hampir punah
Secara administratif, Kalurahan Madurejo terbagi menjadi 16 padukuhan. Berdasarkan keterangan dari Sekretaris Lurah (Carik) Madurejo Hartoto Wahyudi, pada awalnya ada sembilan perangkat gamelan yang tersebar di setiap dusun. Namun, kondisinya tergolong usang dan tak terawat karena tidak pernah difungsikan.
Baca juga: Pesan dan kode matematika dari rumah adat Siwaluh Jabu
"Dua tahun lalu, sekitar tahun 2024, Madurejo termasuk hampir punah gamelannya," kata Hartoto kepada ANTARA pada 29 Oktober 2026.
Dari sekian banyak kelompok gamelan, hanya karawitan Madularas yang masih menabuhnya. Itu pun tak berlangsung secara rutin dan mayoritas anggotanya sudah berusia di atas 70 tahun.
Menurut Hartoto, kondisi tersebut menjadi keprihatinan bersama karena kelestarian kelompok seni karawitan di Madurejo kemungkinan akan terputus.
"Itu menjadi permasalahan di setiap desa bahkan secara nasional, karena surutnya kegemaran masyarakat, khususnya anak muda, terhadap budaya gamelan," ujarnya.
Berangkat dari keresahan tersebut, pengurus Desa Budaya Kalurahan Madurejo kemudian berinisiatif untuk menghidupkan kembali kelompok karawitan di setiap dusun. Perjuangan itu dimulai pada 2024 dengan pembuatan program pelatihan yang menyasar anak usia dini hingga dewasa.
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Agung Dwi Prakoso
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira