Shanghai (ANTARA) - Negara-negara produsen minyak sawit mendorong kerja sama dengan China serta pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi produksi dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference/SVOC) keempat yang baru-baru ini digelar di Shanghai.

"Perubahan harga relatif dapat memengaruhi keputusan pembelian minyak, sementara ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi arus perdagangan dan kepercayaan investor. Oleh karena itu, ketahanan memerlukan informasi pasar yang andal, hubungan perdagangan yang beragam, logistik yang efisien, serta kerangka kebijakan yang dapat diprediksi. Hal ini juga memerlukan kerja sama yang lebih erat antara produsen dan pembeli, sehingga komitmen pasokan, ekspektasi keberlanjutan, dan insentif komersial dapat lebih selaras," ujarnya.

Konferensi ini diselenggarakan oleh Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) dan mengusung tema "Sinergi Keberlanjutan dan Rantai Nilai yang Tangguh" (Sustainability Alignment, Resilient Value Chains).

Sebagai forum tingkat tinggi di sektor minyak nabati, acara ini mempertemukan sekitar 220 peserta dari 11 negara, dengan tujuan memperkuat kerja sama strategis dalam industri minyak nabati global.

Dia juga menyampaikan bahwa dengan terus meningkatnya permintaan minyak nabati, CPOPC harus mencari solusi untuk meningkatkan produktivitas melalui penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab dan memastikan keberlanjutan rantai pasokan.

Menurut Izzana, negara-negara anggota CPOPC menyumbang 89 persen dari pasokan minyak sawit global, dan industri ini menjadi sumber mata pencaharian yang vital bagi jutaan pengusaha dan petani kecil di negara-negara penghasil.

Minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling banyak diimpor China, dengan pasokan terutama berasal dari negara-negara anggota CPOPC, termasuk Indonesia.

Duta Besar Republik Indonesia untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun menyampaikan bahwa penyelenggaraan konferensi ini mencerminkan eratnya hubungan bilateral Indonesia dan China serta komitmen bersama kedua negara untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang.

Menurutnya, kemitraan strategis ini akan membantu menjaga stabilitas ekonomi, mendorong investasi berkelanjutan, serta membangun rantai pasokan global yang inklusif dan tangguh.

Konsul Jenderal Republik Indonesia di Shanghai Berlianto Situngkir menyoroti posisi China sebagai mitra dagang terbesar untuk negara-negara anggota CPOPC.

Dia juga menyampaikan bahwa Shanghai berperan penting dalam mendorong produktivitas dan inovasi, serta meningkatkan nilai tambah bagi sejumlah industri.

Konferensi ini membahas sejumlah topik, di antaranya dampak transisi menuju kebijakan hijau terhadap industri minyak sawit, integrasi teknologi dalam produksi minyak nabati, peningkatan kapasitas petani kecil untuk mewujudkan produksi berkelanjutan, serta pengembangan bahan bakar hayati (biofuel) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi rendah karbon. Selesai

Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Xinhua

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira