Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud mengajak para santri untuk turut mengawal jalannya pemerintahan lewat kritik yang konstruktif dan membangun.

Hal itu disampaikan Marsudi untuk mengapresiasi keberlanjutan dan capaian program pembangunan yang dijalankan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

"Indonesia tidak berdiri secara tiba-tiba, tetapi lahir dari legacy dan perjuangan para ulama serta santri terdahulu. Oleh karena itu, pengawasan terhadap jalannya pembangunan nasional menjadi bagian tak terpisahkan dari ikhtiar menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," katanya di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Hari Santri Nasional momentum perkuat komitmen cetak generasi emas

Marsudi menegaskan bahwa menjaga dan membela negara merupakan amanah sejarah yang melekat pada diri santri. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh santri yang telah menyaksikan kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran untuk memberi masukan.

"Mudah-mudahan apa yang sudah dilaksanakan bisa diterima masyarakat, kita bersyukur, alhamdulillah dan semoga yang baik terus dilanjutkan," ujar dia.

Marsudi menilai bahwa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah berupaya merealisasikan berbagai program demi kemajuan masyarakat. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa dinamika pembangunan tidak lepas dari berbagai kekurangan yang perlu disempurnakan.

Untuk merespons kekurangan tersebut, santri diajak untuk mengambil peran aktif menyampaikan masukan secara bijak, objektif, dan berniat membangun, bukan merusak.

Baca juga: Hari Santri di Kairo, PCINU apresiasi 43 mahasiswa peraih cumlaude

Baca juga: Gibran dukung UTDI perkuat literasi digital santri

​"Yang masih belum bisa diterima, karena ada kurang ini atau kurang itu, mestinya begini atau begitu, ayo bareng-bareng kita sampaikan. Masih ada yang kurang, perlu diperbaiki, kita sampaikan kritik-kritiknya, tapi jangan kritik yang merusak. Itu semua adalah demi membangun," paparnya.

Marsudi juga mengingatkan tiga pilar utama tugas santri sebagaimana pernah dipesankan oleh pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari. Ketiga pilar tersebut mencakup kewajiban menjaga agama, menjaga guru atau sanad keilmuan, serta menjaga negara dan bangsa.

"Keberadaan lembaga pesantren dan organisasi keislaman di Indonesia terbukti menjadi benteng utama dalam merawat persatuan nasional," tuturnya.

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Lintang Budiyanti Prameswari

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira