Jakarta (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan algoritma tidak bisa menghilangkan keragaman budaya yang menjadi keunikan dan ciri khas Indonesia.
Menurut dia, justru teknologi seharusnya mencerminkan keragaman Indonesia, bukan membuat masyarakat mengikuti pola informasi yang seragam.
"Maluku, Papua, Aceh, Medan, Makassar, Bali, Jambi, Kalimantan; inilah teman-teman Indonesia, inilah Indonesia. Oleh karena itu, teknologi tidak boleh membuat kita melihat hal yang sama. Algoritma tidak boleh memaksa anak-anak dari Sabang sampai Merauke, yang memiliki cerita masing-masing, untuk melihat satu hal yang sama," kata Meutya dalam acara Indonesia Youth Summit 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (30/10).
Dia juga mengingatkan bahwa tanpa pengaman dan pengawasan memadai, algoritma dapat membentuk pola informasi dan kebiasaan seragam. Kondisi tersebut berisiko mengikis keunikan masyarakat yang menjadi kekuatan Indonesia.
"Tanpa pengaman yang memadai, kita melakukan hal yang sama dengan kebiasaan yang sama, yang banyak didikte oleh teknologi, termasuk kecerdasan artifisial. Kecenderungan ini perlu kita mitigasi karena dapat membuat kekuatan kita runtuh," kata Meutya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Baca juga: Menkomdigi nilai anak muda berperan tentukan arah pemanfaatan AI
Dia juga menyoroti keterwakilan data sebagai faktor penting untuk mencegah bias kecerdasan artifisial (AI).
Apabila data yang digunakan hanya berasal dari Jakarta atau Pulau Jawa, maka hasil pengolahan AI tidak akan menggambarkan keragaman masyarakat Indonesia dan berisiko menghasilkan informasi tidak akurat.
"Kalau data kita hanya berasal dari Jakarta atau Pulau Jawa, maka AI akan menjadi bias. Pertama, datanya tidak valid. Kedua, AI cenderung menyenangkan penggunanya. AI memberikan validasi, bukan informasi. Padahal, yang kita perlukan untuk produktivitas adalah informasi yang akurat," jelasnya.
Meutya menekankan pentingnya keakuratan informasi yang dihasilkan AI, terlebih perkembangan teknologi seperti agentic AI memiliki kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.
Pengaman teknologi juga diperlukan agar inovasi tetap berjalan tanpa mengabaikan kendali dan kepentingan manusia.
"Keputusan akhir harus ada di tangan manusia. Ini sejalan dengan topik acara, yaitu kepemimpinan dalam AI. Kita harus menjadi pemimpin bagi AI itu sendiri," ujar Meutya.
Baca juga: Menkomdigi dorong kaum muda ikut tentukan arah pengembangan AI
Baca juga: Nezar ingatkan pentingnya mitigasi risiko pemanfaatan AI
Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Livia Kristianti
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira