Laki-laki harus terlibat dalam pengasuhan anak, sehingga anak-anak juga memperoleh pengasuhan yang sama serta berkualitas.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengatakan perempuan harus memiliki kesempatan ekonomi yang lebih luas, sehingga keberhasilannya harus dirasakan oleh keluarga.
"Laki-laki harus terlibat dalam pengasuhan anak, sehingga anak-anak juga memperoleh pengasuhan yang sama serta berkualitas," kata Menteri Fauzi sebagai pembicara kunci dalam Dialog Kebijakan International Day of Care and Support (IDCS) melalui zoom di Jakarta, Kamis.
Dia mengatakan pemerintah berperan memperkuat kebijakan dan koordinasi dengan dunia usaha dalam memberikan kesempatan perempuan dalam bekerja, sehingga mampu menghadirkan inovasi dan menerapkan praktik nyata di dunia kerja.
Keterlibatan sejumlah asosiasi, usaha penyedia layanan pengasuhan dan organisasi masyarakat sipil, peneliti dan mitra pembangunan juga diperlukan untuk mengidentifikasi hambatan serta merumuskan solusi sesuai kebutuhan di lapangan.
"Kita juga perlu bergerak dari pengalaman menuju pembelajaran dan dari pembelajaran menuju aksi nyata," kata Fauzi.
Menteri PPPA mengajak pengasuhan anak sebagai bagian penting dari upaya membangun dunia kerja yang lebih setara, produktif dan ramah keluarga.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan pendiri Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) Shinta Kamdani mengatakan hingga tahun 2026 Indonesia masih saja menghadapi tantangan yang sama dalam masyarakat, yaitu tanggung jawab perawatan yang lebih banyak dipikul oleh perempuan.
Sebuah studi ILO berdasarkan survei terhadap 493 responden dari Oktober sampai November 2025 menegaskan bahwa tanggung jawab perawatan dalam keluarga masih salah satu hambatan utama perempuan untuk maju dan berkembang dalam karirnya.
"Sebanyak 42,1 persen responden di level manajemen puncak, 47,1 persen di level manajemen senior, dan 40,4 persen di level manajemen menengah menyebutnya sebagai hambatan utama," kata Shinta.
Menurutnya, ketika perempuan harus memilih antara tanggung jawab keluarga dan peluang karir, maka perusahaan juga ikut kehilangan kesempatan untuk mengembangkan talenta terbaiknya.
Bagi dunia usaha, katanya lagi, ini bukan sekadar isu perempuan saja tapi ini adalah persoalan talenta, produktivitas, kemampuan berinovasi dan keberlanjutan bisnis.
Pemerintah perlu menyediakan kebijakan dan panduan yang jelas dan penyedia layanan perlu mendukung ketersediaan pengasuhan yang berkualitas dan terjangkau. Pekerja termasuk laki-laki juga perlu ambil bagian dalam tanggung jawab perawatan.
"Ketika perempuan pekerja merasa didukung, maka mereka memiliki peluang lebih besar untuk bertahan, berkembang dan memberikan kontribusi terbaiknya," katanya pula.
Baca juga: WWB ukur dampak remitansi PMI perempuan lewat perspektif gender
Baca juga: Menteri PPPA ingatkan hak reproduksi dan maternitas perempuan bekerja
Pewarta: Ahmad Wijaya
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Ahmad Wijaya
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira