Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengungkapkan potensi pengembangan sagu nasional tidak hanya untuk pangan, tetapi juga dapat memasuki sektor energi dan farmasi melalui inovasi produk turunannya.
Sarmuji mengatakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan uji coba pemanfaatan tepung sagu sebagai bahan pendukung pengeboran minyak atau drilling untuk kebutuhan energi.
"Tadi BRIN ternyata sudah mulai melakukan uji coba, bukan hanya meneliti tapi sudah melakukan uji coba, bagaimana tepung sagu dimanfaatkan untuk drilling (pengeboran sumur minyak)," kata Sarmuji ditemui usai membuka kegiatan Sago Business Forum 2026 di Jakarta, Kamis.
Dia menuturkan pemanfaatan sagu untuk kebutuhan industri mulai dikembangkan melalui riset dan uji coba yang dilakukan berbagai pihak guna meningkatkan nilai tambah komoditas lokal tersebut.
Sarmuji menjelaskan kebutuhan sagu untuk kegiatan drilling cukup besar karena satu sumur diperoyeksikan membutuhkan sekitar 10 ton, sedangkan Pertamina memiliki sekitar 900 sumur.
Dengan kebutuhan tersebut, Sarmuji menilai industri drilling dapat menjadi pasar potensial atau offtaker baru bagi produk sagu nasional, termasuk dari sektor swasta yang mengelola sumur energi.
Pemerintah, kata Sarmuji, tengah mengkaji penyusunan standar nasional Indonesia (SNI) serta kemungkinan penerapan kewajiban penggunaan sagu pada sektor industri yang membutuhkan bahan baku tersebut.
Selain sektor energi, Sarmuji menyebut sagu juga memiliki peluang pengembangan dalam industri farmasi melalui penelitian terkait kemampuan campuran sagu dalam membantu proses penyerapan obat.
Dia mengungkapkan hasil penelitian menunjukkan penggunaan campuran sagu dapat mempercepat penyerapan obat dalam tubuh dibandingkan tanpa menggunakan bahan tersebut yang membutuhkan waktu lebih lama.
"Tadi saya juga dijelaskan, ada sagu yang bisa dimanfaatkan untuk penyerapan obat. Kalau tanpa tepung sagu, dia harus sampai sekitar 29 menit, tapi dengan campuran sagu ini, penyerapan dalam tubuh untuk obat itu enggak sampai 1 menit," jelasnya.
Menurut Sarmuji, pengembangan inovasi sagu tersebut menunjukkan komoditas lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bahan baku industri bernilai tambah dan berdaya saing.
Sarmuji juga melihat berbagai inovasi produk turunan sagu seperti mi, pasta, dan produk olahan dengan campuran daun kelor dan rumput laut.
Ia menegaskan pengembangan industri sagu membutuhkan dukungan regulasi, teknologi, riset, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar sagu menjadi komoditas industri unggulan Indonesia.
"Lalu bisa menjadi biskuit maupun produk-produk nonpangan bahkan bisa menjadi bio-packaging dan bioetanol," beber Sarmuji.
Sementara limbah padat dan limbah cairnya, tambah Sarmuji, bisa diproses lebih lanjut menjadi pakan ternak.
"Bahkan menjadi bahan bakar seperti biogas dan macam-macam lainnya," kata Sarmuji.
Baca juga: Menperin pacu hilirisasi sagu buat nilai tambah dan kedaulatan pangan
Baca juga: Menperin dorong penguatan ekspor pati sagu Indonesia ke Jepang
Baca juga: Tim IPB University gelar pelatihan produksi mi sagu di Merauke
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Muhammad Harianto
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira