Seluruh KDKMP yang siap beroperasi akan kita dorong menjadi agen pengumpul minyak jelantah untuk dijual kepada PT Pertamina Patra Niaga, yang selanjutnya diolah menjadi bahan bakar pesawat udara berkelanjutan

Banyumas (ANTARA) - Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi pengumpul minyak jelantah untuk mendukung pengembangan bahan bakar pesawat udara berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) sekaligus meningkatkan pendapatan koperasi.

“Seluruh KDKMP yang siap beroperasi akan kita dorong menjadi agen pengumpul minyak jelantah untuk dijual kepada PT Pertamina Patra Niaga, yang selanjutnya diolah menjadi bahan bakar pesawat udara berkelanjutan,” katanya dalam peluncuran percontohan pengumpulan minyak jelantah melalui koperasi di Desa Dawuhan Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.

Program tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara Kementerian Koperasi dan PT Pertamina (Persero) oleh Ferry Juliantono dan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri.

Lebih lanjut, Ferry mengatakan proyek percontohan itu dilaksanakan melalui empat KDKMP di Banyumas.

Menurut dia, minyak jelantah yang terkumpul akan disetorkan ke kilang Pertamina di Cilacap untuk diproses menjadi bahan bakar penerbangan atau aviation turbine fuel (avtur).

Saat memberikan keterangan pers setelah acara, Menkop mengharapkan program tersebut menjadi model pengumpulan minyak jelantah yang dapat diterapkan di seluruh KDKMP di Indonesia.

Menurut dia, minyak jelantah dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi koperasi karena memiliki nilai jual.

Baca juga: Kemenkop targetkan koperasi miliki kilang minyak goreng pada 2027

Baca juga: Menkop fasilitasi pengembangan kopi Papua Pegunungan

Koperasi direncanakan membeli minyak jelantah dari masyarakat dengan harga Rp5.000 hingga Rp6.000 per liter, kemudian menjualnya kepada Pertamina Patra Niaga dengan harga Rp6.500 hingga Rp7.000 per liter.

“Jadi ada selisih pendapatan yang bisa dijadikan tambahan pendapatan dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” katanya.

Ia mengatakan program tersebut juga menjadi upaya membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan karena satu liter minyak jelantah yang dibuang sembarangan berpotensi mencemari hingga satu juta liter air bersih.

Oleh karena itu, Ferry meminta pengurus koperasi mengumpulkan minyak jelantah dari rumah tangga, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia juga membuka peluang dukungan permodalan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Pertamina untuk membantu koperasi membeli minyak jelantah dari masyarakat.

Ferry mengapresiasi dukungan Pertamina dalam pelaksanaan program tersebut serta berharap kerja sama itu dapat memperkuat usaha koperasi, mendorong ekonomi sirkular dan mendukung kemandirian energi nasional.

Selain memenuhi kebutuhan avtur dalam negeri, menurut dia, pengembangan bahan bakar berbahan baku minyak jelantah juga berpotensi membuka peluang ekspor.

Baca juga: Menkop sebut dakwah ekonomi SI sejalan dengan Program KDKMP

Baca juga: Menkop sebut Kopdes Merah Putih mulai layani penyaluran bansos

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Sumarwoto

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira