Garam dengan spesifikasi tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, sekaligus menjadi bagian dari upaya mengurangi kebergantungan pada garam impor.
Jakarta (ANTARA) - Pagi yang baru merekah di pesisir Oetefu menyapa hangat Yuliana Antonia Messa yang sudah berpeluh di antara petak-petak tambak garamnya.
Peluh menjadi saksi perjalanan panjang perempuan yang akrab disapa Mama Nia itu. Lebih dari empat dekade, ia menggantungkan hidup pada hamparan tambak dan butiran kristal putih yang dihasilkannya.
Bagi dia dan masyarakat pesisir Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, bertani garam telah menjadi bagian dari kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Pekerjaan yang terus dijalani dari satu generasi ke generasi berikutnya itu menjadi tumpuan penghidupan banyak keluarga di wilayah pesisir pulau paling selatan Nusantara.
“Kami masyarakat di sini menganggap garam adalah 'terang'. Kita laksanakan apa yang sudah diterapkan oleh nenek-moyang. Kami lanjutkan karena firman Tuhan itu garam adalah terang dunia,” kata Mama Nia.
Setelah puluhan tahun mengandalkan tambak-tambak tradisional sebagai sumber penghidupan, masyarakat pesisir Rote Ndao kini dihadapkan pada peluang untuk membawa potensi garam daerah itu berkembang ke skala industri yang lebih besar.
Peluang tersebut mengemuka setelah pemerintah menempatkan Rote Ndao sebagai lokasi pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN).
K-SIGN dirancang sebagai salah satu pusat produksi garam nasional untuk meningkatkan pasokan domestik sekaligus mengurangi kebergantungan terhadap impor.
Pemilihan Rote Ndao sebagai lokasi pembangunan bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai memenuhi kriteria pembangunan kawasan industri garam karena memiliki bentang lahan yang sesuai, musim kemarau yang panjang, kesesuaian tekstur tanah, dan data intensitas panas yang mendukung metode produksi melalui penguapan air laut atau evaporasi terbuka.
Dengan kondisi tersebut, Rote dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan produksi garam dalam skala besar.
“Pembangunan K-SIGN di Rote Ndao merupakan bagian dari mandat Peraturan Presiden Nomor 17 tahun 2025 tentang percepatan pembangunan garam nasional yang memuat tiga strategi, yaitu intensifikasi produksi, penerapan teknologi, dan ekstensifikasi lahan,” kata Kepala Balai Besar Pengelola Garam Kupang Zaki Muhasin.
Pembangunan K-SIGN dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama pembangunan mencakup sekitar 616 hektare lahan, dan dilanjutkan dengan pembangunan tahap kedua sekitar 751 hektare.
Dalam proses produksinya, air laut dialirkan dari rumah pompa menuju rangkaian petak produksi sepanjang 12,5 kilometer hingga mencapai area kristalisasi.
Setiap tahap memerlukan pengaturan yang presisi, mulai dari level air, kecepatan aliran, hingga tingkat kepekatannya. Tujuannya, agar air mencapai tingkat kepekatan yang sesuai, yakni 25 derajat Boume.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Moch Mardiansyah Al Afghani
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira