Meski badai hormon perimenopause merupakan proses biologis alami yang tidak dapat dihindari, fase ini bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.
Jakarta (ANTARA) - Perubahan hormon pada wanita ibarat konduktor orkestra rahasia yang mengendalikan seluruh irama kehidupan.
Hormon memegang kendali penuh atas kondisi tubuh wanita di setiap waktu, mulai dari fluktuasi suasana hati dan energi harian, hingga gelombang besar yang mengubah fisik saat masa kehamilan atau transisi menopause.
Memahami pergeseran hormon ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kunci utama untuk membaca sinyal-sinyal penting yang dikirimkan oleh tubuh.
Bagi wanita, masa-masa ini kerap diwarnai oleh sensasi panas tubuh yang membara, badai emosi yang datang tanpa peringatan, serta malam-malam panjang yang melelahkan. Kondisi tersebut semakin terasa nyata saat memasuki fase perimenopause dan menopause.
Ini bukanlah sekadar perubahan biasa atau proses penuaan yang lambat, melainkan transformasi biologis yang mengguncang raga, pikiran, dan jiwa. Sebuah perjalanan bagi seorang wanita untuk beradaptasi dan merangkul keseimbangan di tengah dinamika hormon yang kompleks.
Baca juga: Dokter sebut mood swing tak melulu disebabkan kondisi jelang menopause
Perimenopause
Perimenopause merupakan masa transisi menuju menopause yang ditandai dengan penurunan fungsi ovarium, fluktuasi kadar hormon, serta perubahan siklus menstruasi.
Kondisi ini umumnya mulai terjadi pada rentang usia 40 hingga 50 tahun, dan sekitar 12 persen di antaranya dialami pada usia 40–44 tahun.
Masa transisi ini memicu berbagai perubahan fisik, mulai dari siklus menstruasi yang tidak teratur, nyeri berkepanjangan, hingga gangguan pada area dasar panggul.
Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi subspesialis Fertilitas Endikronologi dari RSPI, Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc, menjelaskan bahwa perimenopause berkaitan dengan penurunan cadangan ovarium serta berkurangnya hormon estrogen dan progesteron. Fase ini menyebabkan durasi dan volume menstruasi berubah (bisa menjadi jauh lebih banyak atau lebih sedikit) serta menjadi jauh lebih fluktuatif dibandingkan dengan kondisi normal pada masa usia produktif.
Penurunan kadar progesteron selama perimenopause juga menyebabkan proses ovulasi menjadi jarang terjadi, bahkan berhenti sama sekali.
Lebih lanjut, gejala perimenopause sangat beragam dan meliputi berbagai aspek tubuh, di antaranya:
Gangguan vasomotor, meliputi rasa panas (hot flashes) dan keringat berlebih pada malam hari.
Gangguan tidur, seperti kesulitan tidur, mudah terbangun, hingga kualitas tidur yang tidak nyenyak.
Gangguan kognitif, meliputi penurunan konsentrasi, mudah lupa, hingga kabut otak (brain fog).
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Sinta Ambarwati
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira