Jakarta (ANTARA) - Penggunaan pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater semakin dekat dengan kehidupan anak muda. Kemudahan mengajukan pinjaman melalui aplikasi, proses pencairan yang cepat, serta fleksibilitas pembayaran menjadi sejumlah faktor yang membuat layanan keuangan digital tersebut diminati.

Survei nasional Muda Bicara ID pada Maret 2026 mencatat 59,38 persen anak muda Indonesia mengaku pernah menggunakan pinjol atau paylater untuk membeli sesuatu. Angka ini menunjukkan tingginya penggunaan layanan pembiayaan digital di kelompok usia muda.

Namun, angka tersebut berbeda dari klaim 61,5 persen pada topik ini sehingga keduanya tidak dapat dianggap sebagai data yang sama tanpa mengetahui sumber survei dan definisi respondennya. Survei Muda Bicara ID melibatkan 800 responden berusia 17–40 tahun.

Di sisi lain, survei Jakpat pada paruh kedua 2025 menemukan 31 persen responden menggunakan paylater dan 11 persen menggunakan pinjaman tunai online. Dalam survei yang melibatkan 2.089 responden itu, Gen Z juga disebut sebagai kelompok yang rentan menggunakan pinjaman online ketika menghadapi tekanan keuangan.

Lantas, apa yang membuat anak muda tertarik menggunakan pinjol dan paylater, dan apa saja risiko yang perlu diperhatikan sebelum memanfaatkannya?

Alasan anak muda menggunakan pinjol dan paylater

Ada beberapa faktor yang mendorong anak muda memanfaatkan layanan pembiayaan digital. Berdasarkan temuan survei Jakpat pada paruh kedua 2025, alasan penggunaan pinjaman online berkaitan erat dengan kebutuhan sehari-hari dan kemudahan memperoleh dana.

1. Proses pengajuan cepat dan praktis

Kemudahan menjadi salah satu daya tarik utama pinjaman online. Pengguna dapat mengajukan pinjaman melalui aplikasi tanpa harus mendatangi kantor lembaga keuangan.

Survei Jakpat mencatat, sebanyak 63 persen pengguna pinjaman online memilih layanan tersebut karena pencairan dana yang cepat. Sementara itu, 61 persen mempertimbangkan proses pengajuan yang sederhana dan 57 persen tertarik karena persyaratannya dinilai lebih mudah.

Kondisi ini membuat pinjol terlihat sebagai solusi praktis ketika seseorang membutuhkan dana dalam waktu singkat. Namun, kemudahan pengajuan tidak selalu berarti pinjaman tersebut sesuai dengan kemampuan finansial pengguna.

Baca juga: Agar tak terjebak utang, ini cara sehat menggunakan Paylater

2. Membantu memenuhi kebutuhan mendesak

Sebagian anak muda menggunakan pinjaman digital ketika menghadapi kebutuhan yang tidak dapat ditunda, seperti biaya kesehatan, kebutuhan rumah tangga, atau pengeluaran mendadak.

Survei nasional Muda Bicara ID pada 2026 menunjukkan, sebanyak 46,2 persen anak muda yang menggunakan pinjol atau paylater memanfaatkannya untuk kebutuhan mendesak, termasuk biaya berobat dan keperluan medis.

Selain itu, 25,1 persen menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pembiayaan digital tidak hanya digunakan untuk berbelanja, tetapi juga untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar.

3. Kondisi keuangan belum mencukupi

Pendapatan yang terbatas atau belum stabil juga dapat mendorong anak muda menggunakan pinjaman digital.

Misalnya, seseorang membutuhkan uang untuk membayar tagihan atau membeli kebutuhan sebelum menerima gaji berikutnya. Dalam situasi tersebut, pinjol dan paylater sering dianggap sebagai cara untuk menutup kekurangan dana sementara.

Namun, penggunaan pinjaman untuk menutup kebutuhan rutin perlu diperhitungkan secara hati-hati. Jika pendapatan tidak cukup untuk membayar cicilan, pengguna berisiko kembali meminjam dan menghadapi tumpukan kewajiban pembayaran.

4. Tertarik promo dan cashback

Paylater kerap menawarkan potongan harga, cashback, atau promosi khusus bagi pengguna yang memilih metode pembayaran tersebut.

Survei menemukan bahwa 40 persen responden Gen Z dan milenial menggunakan paylater karena tertarik mengumpulkan poin cashback atau memanfaatkan promosi.

Survei terhadap 2.153 responden itu juga mencatat bahwa 59 persen menggunakan paylater sebagai alat untuk mengatur keuangan. Meski demikian, promosi tetap perlu dipertimbangkan berdasarkan total biaya transaksi dan kemampuan membayar cicilan.

5. Digunakan untuk kebutuhan gaya hidup

Selain kebutuhan mendesak, sebagian anak muda menggunakan pembiayaan digital untuk memenuhi keinginan konsumtif.

Survei Muda Bicara ID pada 2026 mencatat 15,9 persen responden menggunakan pinjol atau paylater untuk membeli barang tersier atau memenuhi kebutuhan gaya hidup. Sementara itu, 9,3 persen menggunakannya untuk rekreasi yang membutuhkan biaya besar, seperti konser musik dan liburan.

Penggunaan untuk kebutuhan nonprioritas perlu diperhatikan karena barang atau pengalaman yang dibeli dapat habis dinikmati, sedangkan kewajiban cicilannya tetap harus dibayar pada periode berikutnya.

Baca juga: Generasi muda dianjurkan investasi di tengah fenomena pinjol/paylater

Perbedaan pinjol dan paylater

Meski sama-sama menawarkan pembiayaan digital, pinjol dan paylater memiliki fungsi yang berbeda.

Pinjaman online atau pinjol merupakan layanan pinjaman uang melalui platform digital. Dana pinjaman dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan sesuai ketentuan penyedia layanan.

Sementara itu, paylater merupakan fasilitas pembayaran yang memungkinkan pengguna membeli barang atau jasa terlebih dahulu dan membayarnya kemudian, baik secara penuh pada tanggal tertentu maupun melalui cicilan sesuai pilihan yang tersedia.

Perbedaan tersebut penting dipahami sebelum menggunakan layanan pembiayaan. Pengguna perlu mengetahui jumlah dana yang diterima atau nilai transaksi, bunga, biaya administrasi, tenor, denda keterlambatan, serta total kewajiban yang harus dibayarkan.

Risiko menggunakan pinjol dan paylater

Kemudahan memperoleh pembiayaan digital perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai risiko keuangan. Tanpa perencanaan yang baik, penggunaan pinjol dan paylater dapat menimbulkan sejumlah persoalan.

Pertama, cicilan yang menumpuk dapat mengurangi pendapatan bulanan. Jika seseorang memiliki beberapa pinjaman sekaligus, sebagian besar penghasilannya berpotensi habis untuk membayar kewajiban.

Kedua, keterlambatan pembayaran dapat menimbulkan biaya tambahan sesuai perjanjian. Kondisi ini membuat jumlah kewajiban semakin besar apabila pengguna tidak segera menyelesaikannya.

Ketiga, penggunaan pinjaman baru untuk membayar utang lama dapat menciptakan lingkaran utang. Kebiasaan tersebut berisiko membuat kondisi keuangan semakin sulit dikendalikan.

Keempat, pengguna juga perlu mewaspadai penyedia pinjaman ilegal. Penawaran melalui pesan singkat atau media sosial yang menjanjikan pencairan instan tanpa ketentuan jelas patut dicurigai.

Data penggunaan paylater di Indonesia

Tren penggunaan paylater juga terlihat dari perkembangan pembiayaan di sektor perbankan.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan outstanding atau nilai pinjaman paylater perbankan mencapai Rp31,56 triliun pada Juli 2026. Jumlah rekening pengguna tercatat sebanyak 33,50 juta, dengan pertumbuhan pembiayaan sebesar 31,22 persen secara tahunan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa layanan paylater telah menjadi bagian dari aktivitas pembiayaan masyarakat. Meski demikian, jumlah rekening tidak selalu sama dengan jumlah individu karena satu orang dapat memiliki lebih dari satu rekening atau fasilitas pembiayaan.

Data tersebut juga perlu dibedakan dari pembiayaan melalui perusahaan teknologi finansial atau fintech lending. Keduanya memiliki karakteristik dan pencatatan yang berbeda sehingga tidak tepat jika seluruh angkanya langsung digabungkan.

Baca juga: Studi sebut 54 persen kredit Kredivo di 2025 buat kebutuhan produktif

Tips menggunakan pinjol dan paylater secara bijak

Agar tidak terjebak dalam beban cicilan, anak muda perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum menggunakan layanan pembiayaan digital.

1. Gunakan untuk kebutuhan prioritas

Hindari mengambil pinjaman hanya karena tergoda diskon, tren, atau keinginan membeli barang yang belum dibutuhkan.

2. Periksa legalitas penyedia layanan

Pastikan perusahaan pinjaman atau penyedia pembiayaan memiliki izin dan berada dalam pengawasan OJK sesuai jenis layanan yang ditawarkan.

3. Hitung kemampuan membayar

Sesuaikan cicilan dengan pendapatan dan pengeluaran rutin agar kewajiban pembayaran tidak mengganggu kebutuhan pokok.

4. Pahami bunga dan biaya tambahan

Periksa bunga, biaya administrasi, denda keterlambatan, serta total pembayaran sebelum menyetujui transaksi.

5. Hindari gali lubang tutup lubang

Jangan mengambil pinjaman baru hanya untuk membayar cicilan dari pinjaman sebelumnya.

6. Jaga data pribadi

Jangan memberikan kode OTP, PIN, kata sandi, atau informasi sensitif kepada pihak yang mengaku sebagai petugas layanan keuangan.

Penggunaan pinjol dan paylater pada dasarnya merupakan keputusan finansial yang perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Kemudahan akses dan kecepatan transaksi memang dapat membantu dalam situasi tertentu, tetapi keduanya tetap memiliki kewajiban pembayaran.

Tingginya penggunaan pembiayaan digital di kalangan anak muda menjadi pengingat bahwa literasi keuangan perlu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi. Memahami kebutuhan, menghitung kemampuan membayar, dan mengenali risiko menjadi langkah penting agar layanan tersebut tidak berubah menjadi beban keuangan.

Baca juga: OJK: Porsi baki debet BNPL kecil, masih ada peluang untuk tumbuh besar

Baca juga: LPS ingatkan mahasiswa tidak mudah tergiur pinjol dan paylater

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · M. Hilal Eka Saputra Harahap

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira