Jakarta (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengemukakan pentingnya petugas di lini lapangan yakni tim pendamping keluarga (TPK) untuk terus memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai risiko stunting.

Wihaji mengemukakan hal tersebut karena selama ini masih banyak keluarga yang merasa malu atau enggan mengikuti pendampingan dan pemeriksaan kesehatan di posyandu karena anaknya menderita stunting akibat stigma warga sekitar.

"Ada yang malu kalau dikatakan keluarga risiko stunting. Ada juga yang tidak mau membawa anaknya ke posyandu karena nanti dipersepsikan sebagai keluarga risiko stunting. Ini perlu edukasi," katanya dalam Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting) Collaboration Summit di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, pemahaman masyarakat perlu diperkuat agar keluarga bersedia menjalani intervensi sejak dini, terutama sebelum anak mengalami stunting karena peluang pemulihan anak yang sudah mengalami stunting lebih terbatas dibandingkan dengan upaya pencegahan.

Baca juga: Mendukbangga: Pernikahan tak tercatat bisa tingkatkan risiko stunting

Selain stigma, ia mengemukakan, tantangan lainnya berupa persepsi sebagian pemerintah daerah yang merasa wilayahnya tidak memiliki angka stunting tinggi, sehingga penanganan keluarga berisiko belum menjadi prioritas.

Ia juga menyebutkan sejumlah persoalan yang membutuhkan edukasi berkelanjutan, seperti praktik pernikahan dini yang sering dianggap sebagai solusi untuk menghindari pergaulan bebas serta keterbatasan akses terhadap air bersih.

Oleh karena itu, petugas lapangan perlu terus meyakinkan masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting melalui pendampingan keluarga, perubahan perilaku, serta intervensi sesuai kebutuhan masing-masing keluarga.

"Yang terakhir adalah membangun, meyakinkan, dan mengedukasi. Ini tantangan yang harus dihadapi para petugas di lini lapangan," ucap Wihaji.

Kemendukbangga/BKKBN selama dua tahun program Genting telah menjangkau sedikitnya 1,3 juta keluarga berisiko stunting dan telah melibatkan 182.682 mitra orang tua asuh (OTA) dengan jumlah bantuan Rp96,3 miliar rupiah per Oktober 2026.

Baca juga: Mendukbangga: Renovasi rumah keluarga risiko stunting berkelanjutan

Baca juga: Kemendukbangga perkuat data KRS agar intervensi stunting tepat sasaran

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Lintang Budiyanti Prameswari

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira