Jakarta (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mendorong remaja agar tidak takut bercerita jika mengalami gangguan mental dan berkonsultasi dengan teman sebaya.

Pada peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta, Jumat, ia mengemukakan Kemendukbangga/BKKBN memfasilitasi remaja untuk bercerita melalui Generasi Berencana (Genre) dan Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R) yang telah tersebar di seluruh sekolah dan sarana pendidikan.

"Ini kita minta teman-teman (Genre dan PIK-R) untuk terus mengampanyekan bahwa teman-teman yang remaja jangan takut bercerita, jangan malu bercerita, jangan disimpan karena justru kalau malu, kemudian takut, kemudian yang sekarang lagi banyak terjadi bullying (perundungan), oleh karena itu, saya minta ini betul-betul diperhatikan," katanya.

Ia menyampaikan data dari Indonesia–National Adolescent Mental Health Survey (I-NAHMS), terdapat 34,9 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental, dan 1 dari 20 remaja atau sekitar 2,45 juta orang memenuhi kriteria diagnostik gangguan mental dalam setahun kemarin.

"Sebanyak 57 persen remaja mengaku takut atau malu untuk mengungkapkan masalah kesehatan mental, oleh karena itu, mengapa ini perlu kita adakan kegiatan ini? Karena kita ingin mengingatkan sejak dini tentang pentingnya kesehatan mental dan pemerintah memastikan ada akses. Kita juga sudah kerja sama dengan kementerian terkait untuk terus menghidupkan PIK-R dan Genre di semua sekolah," ujar dia.

Baca juga: Faktor-faktor yang bisa mempengaruhi kesehatan mental anak

Ia menjelaskan forum tersebut memberikan pembelajaran untuk teman-teman sebaya agar saling bercerita dan memberikan edukasi satu sama lain, sehingga kesadaran tentang kesehatan mental dapat terus digaungkan.

"Harapannya mereka juga mengampanyekan teman-teman sebayanya kalau ada masalah, sehingga tidak disimpan, dan justru karena simpanan masalah inilah yang bagian dari potensi gangguan kesehatan mental. Kita tadi juga sudah mendengarkan curhatan mereka, ada yang pernah mem-bully, ada yang pernah di-bully, kemudian ada yang pernah sakit hati, ada yang pernah terluka, dan mereka alhamdulillah mau membuka diri," katanya.

Selain menyediakan fasilitas bagi teman sebaya di sekolah, pemerintah juga memastikan keterjangkauan layanan kesehatan mental melalui psikolog dan psikiater.

"Sehingga kita juga datangkan psikolog, kemudian ada dokter ahli juga, yang ini bagian dari pemerintah hadir memberikan akses kepada remaja-remaja Indonesia," katanya.

Baca juga: Mendukbangga manfatkan ruang ramah anak, tekan gangguan mental remaja

Baca juga: Kiat bangun hubungan sehat dengan pasangan yang alami gangguan mental

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Lintang Budiyanti Prameswari

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira