Mataram (ANTARA) - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak mahasiswa di Nusa Tenggara Barat menggeluti usaha sebagai eksportir sejak usia muda guna meningkatkan perekonomian nasional.
Ia menegaskan Kementerian Perdagangan saat ini tengah menggencarkan program Kampus Preneuer atau Kampus Eksportir. Program ini bertujuan mencetak mahasiswa menjadi entrepreneur, khususnya eksportir.
"Kita ingin mengajari anak-anak kita, para mahasiswa ini menjadi entrepreneur. Salah satunya adalah menjadi eksportir," kata Budi Santoso pada wartawan usai memberikan edukasi pada ratusan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat).di Mataram, Kamis.
Budi Santoso mengakui saat ini, pihaknya telah bekerja sama dengan lebih dari 27 kampus di seluruh Indonesia guna mendukung program kampus eksportir tersebut. Program ini tidak hanya bersifat pelatihan, tetapi berorientasi pada hasil nyata berupa transaksi ekspor.
"Caranya kita ajari dari hulu ke hilir, kita buat pelatihan ekspor-nya, standarisasi produknya, packaging-nya, sampai mencarikan buyer," ujarnya.
Ia menyebutkan pada gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) yang digelar 18-19 Oktober, pihaknya memfasilitasi booth khusus yang diisi oleh 20 kampus dengan produk-produk unggulan kampus dan UMKM binaannya. Hasilnya, terjadi transaksi sebesar 24,5 juta dolar AS. Ia menyebutkan negara tujuan ekspor terbesar dalam program ini antara lain India, Belanda, dan Uni Emirat Arab.
Tiga kampus dengan transaksi terbesar adalah Binus University dengan produk talas sebagai yang terbesar, disusul Telkom University Bandung di posisi kedua, dan IPB di posisi ketiga. Bahkan, Binus dan IPB telah melakukan pelepasan ekspor sebelum gelaran TEI.
"Ini tidak mengganggu kuliah, karena mereka sebenarnya tinggal manajemen-nya saja. Mahasiswa ini nanti berfungsi sekaligus sebagai agregator," tegas Budi Santoso.
Baca juga: Wamen UMKM: Kampus UKM bawa produk Indonesia mendunia
Baca juga: Guru Besar Unair kembangkan Mikroba Bacillus produk ramah lingkungan
Menurutnya, konsep agregator itu dinilai menjadi kunci. Mahasiswa tidak harus memproduksi barang sendiri, melainkan bisa mengambil produk UMKM, membina agar memenuhi standar ekspor, mendesain ulang, hingga menjualkannya ke buyer internasional. Bahkan beberapa kampus berhasil membantu menjualkan produk dari perusahaan besar.
Oleh karena itu, ke depan pihaknya akan terus melakukan kurasi produk, perbaikan desain, hingga strategi penjualan melalui perwakilan dagang di luar negeri, seperti Atase Perdagangan (Atdag) dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Bahkan, mahasiswa juga ditawarkan program magang langsung di ITPC di berbagai negara.
"Kita tawarkan kepada adik-adik mahasiswa untuk magang di ITPC. Nanti kita ajari cara cari buyer. Setelah dapat buyer, dia pulang bisa jadi eksportir-nya. Jadi praktek di sana sebenarnya belajar tapi sekaligus mendapat buyer, sambil menyelam minum air," katanya.
Lebih lanjut Budi Santoso mengakui saat ini kinerja ekspor Indonesia terus tumbuh positif di tengah tantangan perdagangan global. Secara kumulatif, ekspor periode Januari-September 2025 naik 5,58 persen dengan surplus neraca perdagangan mencapai 10,61 miliar dolar AS.
"Pasar domestik yang besar harus menjadi ruang tumbuh bagi industri nasional, sementara pasar global menjadi target peningkatan produksi untuk ekspor," katanya.
Baca juga: Siap lahirkan 10.000 eksportir, Kampus UMKM Shopee Ekspor diresmikan
Baca juga: BPOM jembatani riset kampus dengan industri lewat fitur BRIDGE
Pewarta: Nur Imansyah
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Nur Imansyah
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira