Esensinya adalah bagaimana kita menghilangkan 'waste' atau limbah melalui 'recycle, reuse' atau intervensi terhadap materialnya sehingga limbah semakin kecil dan semakin sedikit. Ini menjadi peluang,

Jakarta (ANTARA) - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan transformasi menuju ekonomi sirkuler (circular economy) membuka penciptaan jutaan lapangan kerja baru di Indonesia.

“Circular economy ini sebenarnya sudah lama kita dengar. Esensinya adalah bagaimana kita menghilangkan waste atau limbah melalui recycle, reuse atau intervensi terhadap materialnya sehingga limbah semakin kecil dan semakin sedikit. Ini menjadi peluang,” ujar Yassierli dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan peluang tersebut muncul seiring perubahan model industri dari pola ekonomi linear yang menghasilkan limbah menjadi ekonomi sirkuler yang mengoptimalkan pemanfaatan kembali bahan baku dan produk agar memiliki nilai tambah.

Menurut Yassierli, potensi ekonomi sirkuler di Indonesia cukup besar. Menurutnya, ekonomi sirkuler berpotensi menambah 4,4 juta tenaga kerja hingga 2030, serta memberikan tambahan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp638 triliun.

“Potensi tersebut terutama berada pada sektor pangan, plastik kemasan, elektronik, konstruksi dan tekstil,” ujar dia.

Menaker Yassierli menilai peluang tersebut membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha dan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, terutama dalam pengembangan teknologi pengolahan material.

Namun, ia mengingatkan bahwa peluang ekonomi sirkuler tidak cukup hanya dilihat dari aspek penciptaan usaha dan lapangan kerja.

Baca juga: Menaker: Pelatihan vokasi buka akses kerja dan peluang wirausaha

Baca juga: Menhub-Menaker perkuat sinergi angkutan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027

Pekerjaan yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan juga harus memenuhi prinsip pekerjaan layak (decent work), termasuk memberikan upah wajar, perlindungan sosial, serta keselamatan dan kesehatan kerja.

“Green jobs itu tidak hanya hijau, tetapi juga harus layak. Jangan sampai kita membangun ekosistem yang ramah lingkungan, tetapi pekerjaannya tidak terlindungi dan gajinya jauh di bawah upah minimum,” tegasnya.

Ia mencontohkan pekerja pemilah sampah yang selama ini banyak berada di sektor informal. Padahal, mereka memiliki kontribusi penting dalam ekosistem ekonomi sirkular.

Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat pengakuan profesi pemilah sampah, meningkatkan keterampilan mereka agar mampu mengolah material menjadi produk bernilai tambah, serta memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.

Untuk menangkap peluang tersebut, Yassierli menekankan pentingnya menyiapkan kompetensi tenaga kerja melalui peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling).

“Kita harus menyiapkan tenaga kerja yang kompeten agar mampu mengambil peluang dari perubahan industri ini. Dan yang tidak kalah penting, kita berkewajiban melindungi mereka dari aspek kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan kerja dan jaminan sosial,” ujarnya.

Baca juga: Menaker ungkap 3 karakter penting bagi SDM hadapi dinamika dunia kerja

Baca juga: Menaker: Produktivitas usaha harus sesuai kebutuhan pasar

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Arnidhya Nur Zhafira

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira