Mataram (ANTARA) - Pulau Lombok yang terkenal indah dan menawan terus dihantui persoalan sampah. Gunungan-gunungan sampah tersebar dari kawasan pesisir, seperti Gili Trawangan, hingga dataran tinggi di Sembalun yang menjadi pintu masuk wisata pendakian Gunung Rinjani.

Pendekatan kumpul, angkut, dan buang, tidak lagi relevan untuk mengatasi timbulan ribuan ton sampah setiap hari di tengah keterbatasan jumlah armada angkut serta kurangnya fasilitas pengolahan.

Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah terbesar di Nusa Tenggara Barat, yakni TPA Kebon Kongok, yang berlokasi di Kabupaten Lombok Barat, mulai kewalahan menampung volume sampah yang muncul tanpa jeda dari Kota Mataram dan Lombok Barat itu sendiri.

Pada 7 September 2026, TPA Kebon Kongok yang telah beroperasi sejak tahun 1993 terpaksa harus membatasi perjalanan armada pengangkut sampah menjadi hanya satu kali setiap hari akibat zona timbun atau landfill penuh.

Kebijakan pembatasan ritase armada pengangkut tersebut menyebabkan gunungan sampah di wilayah Mataram dan Lombok Barat menjadi semakin tinggi. Udara sejuk bercampur bau busuk gas amonia yang keluar dari proses penguraian bahan organik.

Lombok butuh penataan ulang sistem pengelolaan sampah menyeluruh dari level rumah tangga, pasar, dan kawasan wisata, hingga tempat pemrosesan akhir agar tidak ada lagi timbulan sampah yang merusak pemandangan, mencemari indera penciuman, dan mengacaukan suasana hati.

Tanpa ada perubahan mendasar dari hulu ke hilir, maka kita hanya akan membuat sampah berpindah tempat tanpa benar-benar terselesaikan dari sumbernya.


Revolusi sampah

Selama puncak musim kemarau dari Juli hingga Oktober 2026, tempat pembuangan sampah (TPS) Pasar Gunungsari di Lombok Barat telah mengalami insiden kebakaran yang terdokumentasi sebanyak enam kali.

Rentetan kejadian kebakaran tersebut menandakan bahwa penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan proses pemadaman saat api muncul. Insiden itu membutuhkan solusi konkret agar penumpukan sampah bisa teratasi.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat telah beberapa kali melakukan gotong royong dan pengangkutan sampah Pasar Gunungsari ke TPA Kebon Kongok, tapi persoalan sampah itu tidak kunjung usai. Sampah terus saja berdatangan dari berbagai arah, tidak hanya dari pasar, tetapi juga dari warga kecamatan lain.

Kasus kebakaran berulang kali dan sampah yang terus muncul di TPS Pasar Gunungsari menjadi momentum untuk membenahi sistem pengelolaan sampah dengan menjadikan pasar tradisional sebagai titik awal revolusi sampah.

Pasar tradisional menjadi salah satu objek strategis untuk menata ulang sistem pengolahan sampah mengingat aktivitas perdagangan menghasilkan beragam jenis sampah, mulai dari sisa sayuran, buah-buahan, pangan hingga plastik, kardus, serta kemasan sekali pakai.

Sebagian besar sampah pasar tradisional sebetulnya masih memiliki nilai guna jika dipisahkan dan dikelola secara benar, contohnya limbah pangan dapat diolah menjadi pupuk kompos dan limbah kemasan dapat didaur ulang agar bisa dipakai kembali.

Bila tahapan pilah limbah organik dan kemasan bisa tertangani secara mandiri, maka persoalan timbulan sampah pasar tradisional bisa teratasi sebesar 90 persen. Adapun sisa 10 persen sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan perlu diangkut dan ditangani secara aman di tempat pemprosesan akhir.

Arsip - Petugas kebersihan memeriksa maggot black soldier fly (BSF) di tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Sandubaya, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (11/10/2025). ANTARA/Sugiharto Purnama

Lokasi Pasar Gunungsari yang berada tepat di tengah areal persawahan dan diapit lahan perkebunan menjadikan tempat tersebut sangat strategis untuk penerapan pupuk kompos hasil dari proses pengolahan limbah pasar.

Kerja sama dengan kelompok tani, ruang terbuka hijau, komunitas lingkungan, dan pelaku usaha harus dibangun oleh pemerintah agar kompos bukan sekadar alat untuk menyalurkan hasil program desampahisasi, melainkan memang dibutuhkan secara nyata oleh sektor pertanian dan perkebunan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Sugiharto Purnama

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira