Jayapura (ANTARA) - Sejak pagi, Maickhel Awee menyiapkan perahu dan perlengkapan untuk mencari ikan di perairan Pantai Holtekamp, Kota Jayapura. Nelayan berusia 55 tahun itu biasanya mulai melaut pukul 06.00 dan menempuh jarak sampai 10 kilometer dari bibir pantai.

Menurut Maickhel, perubahan arus di perairan tersebut membuat ikan semakin sulit ditemukan di sekitar pantai. Nelayan pun harus mencari lokasi penangkapan yang lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan.

"Dulu, waktu ikut orang tua melaut, kami hanya mencari ikan di bibir pantai saja su dekat tapi sekarang harus pergi 10 kilometer baru bisa dapat ikan," katanya pada 5 November 2026.

Maickhel mengaku telah ikut mencari ikan sejak duduk di bangku SMA sehingga cukup mengenal karakter perairan Holtekamp. Menurut dia, ikan mulai menjauh dari bibir pantai akibat abrasi, kerusakan terumbu karang, dan pencemaran sampah rumah tangga.

Kondisi tersebut membuat nelayan harus mempelajari pola pergerakan ikan, termasuk saat ikan melintas di kawasan tertentu. Pengetahuan itu diperlukan agar mereka tidak kehilangan kesempatan mendapatkan tangkapan.

Melihat kondisi tersebut, PT PLN (Persero) membantu para nelayan melalui pembuatan rumah ikan atau terumbu buatan. Struktur tersebut memanfaatkan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) yang merupakan limbah padat hasil pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Holtekamp.

Bersama komunitas EAB Outdoor, PLN mengembangkan rumah ikan sebagai salah satu upaya memulihkan ekosistem pesisir sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Baca juga: Di lumbung pangan Merauke, SPBU khusus petani mempermudah akses energi

Perwakilan EAB Outdoor Fendy Joyo mengatakan pembangunan rumah ikan berawal dari pengamatan terhadap kondisi pesisir Holtekamp yang didominasi hamparan pasir dan memiliki keterbatasan terumbu karang.

Dari pengamatan tersebut, komunitasnya memikirkan cara membuat struktur bawah laut yang dapat dimanfaatkan biota laut untuk berlindung dan berkembang. Mereka kemudian melihat potensi FABA sebagai salah satu material untuk mewujudkannya.

Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Qadri Pratiwi

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira