Jakarta (ANTARA) - Mengadaptasi novel populer "Laut Bercerita" karya Leila S. Chudori ke layar lebar bukan perkara mudah. Cerita yang disuguhkan menampilkan beragam karakter, peristiwa, dan lapisan emosi itu, harus dirangkum ke dalam film berdurasi 135 menit.
Tantangan tersebut tidak hanya terletak pada bagaimana mempertahankan inti cerita, tetapi juga bagaimana menghadirkan tontonan yang tetap bermakna bagi penonton, termasuk mereka yang telah lebih dahulu mengenal kisahnya melalui novel.
Baca juga: Produser Gita Fara: Film "Laut Bercerita" bidik kualifikasi Oscar
Baca juga: Produser sebut garap "Laut Bercerita" habiskan waktu sembilan tahun
Sutradara Yosep Anggi Noen yang turut menulis skenario film ini bersama penulis Leila S. Chudori tampaknya memahami bahwa film tidak harus menjadi salinan visual dari setiap bab dalam buku.
Alih-alih memindahkan seluruh peristiwa secara harfiah, keduanya memilih menampilkan cerita dengan menempatkan sisi kemanusiaan sebagai pusat penceritaan.
Hasilnya adalah sebuah karya yang berdiri dengan karakter sinematiknya sendiri, sekaligus mempertahankan ruh kisah tentang keberanian anak muda, kehilangan, dan keluarga yang harus melanjutkan hidup di tengah ketidakpastian.
Sejak awal, film ini memperlihatkan pendekatan penceritaan yang terasa berbeda dari sejumlah karya Yosep Anggi Noen sebelumnya.
Sutradara yang kerap dikenal melalui film dengan tempo lambat, suasana sunyi, dan penggunaan simbol yang kuat, seperti dalam "Istirahatlah Kata-Kata" (2017) atau Hiruk-Pikuk si Alkisah" (2020), kali ini memilih alur yang relatif lebih mudah diikuti.
Ketegangan dibangun melalui rangkaian peristiwa yang bergerak cukup cepat, sebelum cerita perlahan mengarahkan perhatian penonton pada dampak kehilangan terhadap orang-orang yang ditinggalkan.
Struktur film terbagi dalam dua bagian besar dengan suasana emosional yang kontras, tetapi saling melengkapi.
Bagian pertama membawa penonton ke dalam atmosfer ketakutan di tengah pergerakan mahasiswa. Kehidupan sekelompok anak muda digambarkan melalui aktivitas yang harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kewaspadaan terhadap ancaman, serta upaya menjaga kepercayaan di tengah situasi yang tidak aman.
Ruang publik yang semestinya menjadi tempat beraktivitas berubah menjadi ruang yang menyimpan risiko. Pertemuan, percakapan, dan hubungan pertemanan tidak lagi berlangsung dalam situasi biasa. Setiap gerak seolah harus diperhitungkan karena ancaman dapat muncul kapan saja.
Ketegangan tersebut menjadi fondasi bagi film untuk memperlihatkan bagaimana keberanian, persahabatan, dan keyakinan diuji ketika seseorang memilih bertahan pada prinsip yang diyakininya.
Baca juga: Sutradara: Semangat pemuda di "Laut Bercerita" relevan lintas negara
Namun, upaya memadatkan hubungan antarkarakter yang dalam novel digambarkan dekat dan hangat menjadi salah satu tantangan pada bagian awal.
Keterbatasan durasi semestinya tidak memangkas sejumlah cerita sampingan.
Karena dampaknya, kedekatan emosional antara penonton dengan tokoh utama cerita, Biru Laut, mungkin tidak terbentuk sekuat ketika membaca novelnya.
Perpindahan dari satu peristiwa ke peristiwa lain terkadang tidak memberikan cukup ruang bagi penonton untuk mengenal karakter utama secara lebih mendalam.
Penonton yang belum membaca novel sebelumnya juga membutuhkan waktu untuk memahami hubungan dan latar belakang masing-masing tokoh pendukung.
Meski demikian, persoalan ini tidak sepenuhnya mengurangi kekuatan film karena penceritaan kemudian menemukan pijakan emosional yang lebih kuat pada paruh kedua.
Ketika cerita beralih dari ruang gerak mahasiswa ke kehidupan keluarga, suasana film berubah secara signifikan.
Ketegangan yang sebelumnya dibangun melalui peristiwa menegangkan berganti menjadi keheningan yang menyimpan kesedihan.
Kamera membawa penonton menyaksikan bagaimana kehilangan tidak berhenti pada seseorang yang tidak diketahui keberadaannya, tetapi juga menjalar ke kehidupan keluarga yang terus menunggu kepastian.
Di bagian inilah film menemukan kekuatan dramatisnya. Persoalan tidak lagi semata-mata tentang apa yang terjadi kepada mereka yang menjadi korban, tetapi juga bagaimana orang-orang terdekat menghadapi ketidakpastian.
Baca juga: Yunita Siregar tuturkan perannya dalam film "Laut Bercerita"
Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menjadi ruang yang dipenuhi pertanyaan, kecemasan, dan kerinduan. Penantian menjadi bagian dari keseharian, sementara kehidupan harus tetap berjalan meskipun ada satu sosok yang tidak lagi hadir.
Peralihan suasana tersebut disampaikan melalui pendekatan visual yang kuat.
Sinematografer Batara Goempar memanfaatkan permainan pencahayaan kontras antara gelap dan terang untuk membangun atmosfer terisolasi dan muram. Lorong sempit, ruangan temaram, serta sudut-sudut yang minim cahaya tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga mendukung gambaran psikologis para tokoh.
Penggunaan kamera jarak dekat pada sejumlah adegan turut memperkuat kedekatan penonton dengan karakter. Ekspresi wajah, tatapan, dan perubahan emosi ditampilkan tanpa harus selalu dijelaskan melalui dialog.
Pilihan ini membuat penderitaan tokoh terasa lebih mudah dirasakan. Penonton seolah diajak berada di dalam ruang yang sama, menyaksikan ketakutan dan kesedihan yang perlahan menguasai kehidupan mereka.
Pengarahan aktor yang terjaga membuat emosi dalam film tidak terjebak pada ekspresi berlebihan. Karakter utama pria Biru Laut yang diperankan oleh aktor Reza Rahadian, misalnya.
Ia memperlihatkan perubahan kondisi psikologis dari seorang pemuda yang penuh semangat menjadi sosok yang mengalami kehancuran akibat trauma kekerasan dan pengkhianatan yang dialaminya.
Penampilan pemeran adik perempuan Biru Laut juga memberikan lapisan emosi tersendiri. Karakter bernama Asmara Jati (diperankan oleh Yunita Siregar) ini hadir sebagai sosok yang berusaha tetap berpikir logis di tengah kesedihan keluarga.
Dalam sejumlah adegan, ekspresi tertahan dan keheningan justru menjadi cara paling kuat untuk menyampaikan kepedihan. Tidak semua kesedihan harus diungkapkan melalui tangisan atau dialog panjang. Terkadang, upaya menahan air mata justru memperlihatkan beban emosional yang lebih dalam.
Kehadiran para aktor senior yang memerankan orang tua sekelas Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara turut membuat dinamika keluarga terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mereka menghadirkan sosok orang tua yang berusaha bertahan, meskipun harus menghadapi kenyataan bahwa nasib anaknya belum mendapatkan kepastian. Hubungan keluarga yang hangat sekaligus rapuh ini menjadi salah satu sumber kekuatan emosional film.
Baca juga: Wajah jadi salah satu kriteria pilih pemeran "Laut Bercerita"
Salah satu momen yang paling membekas adalah adegan makan malam keluarga dengan kursi dan piring kosong. Adegan tersebut bekerja melalui kesederhanaan. Tidak diperlukan penjelasan panjang untuk menggambarkan seseorang yang seharusnya hadir, tetapi tidak lagi berada di tempatnya. Kursi kosong itu menjadi pengingat bahwa kehilangan tidak hanya dirasakan pada peristiwa tertentu, melainkan hadir berulang kali dalam rutinitas keluarga.
Di luar penampilan para pemeran utama, detail produksi juga mendukung upaya membangun suasana masa lalu.
Pemilihan ratusan pemain figuran demonstran mahasiswa dengan karakteristik wajah yang sesuai dengan latar era 1990-an membantu menghadirkan konteks waktu secara lebih meyakinkan.
Pendekatan tersebut membuat suasana periode cerita terasa lebih alami karena wajah pemuda Indonesia pada masa itu cukup banyak diasumsikan lebih tua dari usianya.
Rangkaian adegan melalui penyuntingan gambar Dinda Amanda juga membuat perpindahan antarrangkaian peristiwa masa kini seakan terjadi di masa lalu dalam sebuah adegan montase bisa dikatakan dapat menjadi salah satu momen yang paling emosional di film ini. Marah, sedih, haru, campur aduk sekaligus lewat adegan tersebut.
Penyuntingan menjadi penting karena film bergerak di antara dua ruang cerita dengan intensitas berbeda. Bagian awal membutuhkan ritme yang mampu mempertahankan ketegangan, sedangkan bagian berikutnya memerlukan ruang bagi penonton untuk menyerap emosi dan memahami dampak kehilangan.
Sebagai adaptasi, "Laut Bercerita" juga mengambil sejumlah keputusan kreatif dalam menyesuaikan latar belakang karakter. Salah satu perubahan terlihat pada latar belakang tokoh pemimpin perempuan dalam kelompok mahasiswa.
Perubahan seperti ini semakin menambah getir kisah ini bagi pembaca yang telah memiliki pemahaman sendiri tentang karakter dan alur karakter tersebut dalam novelnya.
Dalam film, sutradara Anggi Noen mengaku berusaha untuk tidak menyebutkan apa yang terjadi pada karakter perempuan yang diperankan Dian Sastrowardoyo tersebut, apakah ia selamat atau tidak, dan menyerahkan jawaban sepenuhnya kepada penonton filmnya.
Adaptasi film memang memiliki kebutuhan penceritaan yang berbeda dari novel. Perubahan tidak selalu berarti menghilangkan inti cerita, melainkan dapat menjadi cara untuk menegaskan konflik dan membangun pengalaman emosional yang sesuai dengan bahasa sinema.
Baca juga: Anggi Noen pilih "Bumi Manusia", Dian Sastro pilih "Anak Semua Bangsa"
Film ini pada akhirnya tidak hanya mengandalkan rangkaian peristiwa untuk menyampaikan pesan. Fokusnya perlahan bergerak menuju keteguhan manusia dalam mempertahankan harapan, kesetiaan, dan ingatan ketika berhadapan dengan kehilangan.
Kisah para mahasiswa menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang lebih luas, yakni bagaimana sebuah peristiwa dapat meninggalkan dampak panjang bagi kehidupan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Penggunaan rekaman video asli dari kejadian nyata pada bagian montase memberikan lapisan makna yang berbeda.
Setelah mengikuti perjalanan karakter dalam dunia fiksi, penonton dihadapkan kembali pada kenyataan yang menjadi latar kisah tersebut.
Ini mengapa adegan montase ini dapat sangat membekas di ingatan mereka yang sudah menonton film ini. Adegan itu mempertegas bahwa cerita yang disaksikan bukan sekadar konstruksi dramatik, melainkan memiliki keterhubungan dengan pengalaman sejarah dan kehidupan manusia.
Pada akhirnya, "Laut Bercerita" merupakan film yang mengajak penonton melihat kehilangan dari dua sisi: mereka yang mengalami kekerasan dan mereka yang harus hidup dalam penantian.
Film ini mungkin tidak dapat memuat seluruh kedalaman hubungan antarkarakter sebagaimana tergambar dalam novel. Beberapa bagian awal terasa terburu-buru, terutama dalam membangun kedekatan penonton dengan latar belakang tokoh utama.
Namun, kekuatan drama keluarga, penampilan para pemain, sinematografi, dan keputusan kreatif dalam mengolah materi sumber membuat film ini memiliki daya emosional tersendiri.
Lebih dari sekadar adaptasi novel, film ini menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga ingatan dan memahami dampak kehilangan terhadap kehidupan manusia.
Melalui kisah keluarga yang terus menanti, "Laut Bercerita" menempatkan duka bukan sebagai akhir dari cerita, melainkan sebagai bagian dari perjuangan untuk mempertahankan harapan. Sebuah penghormatan terhadap mereka yang hilang, sekaligus kepada keluarga yang terus menjalani hidup dengan pertanyaan yang belum terjawab.
Baca juga: KSS dan ILUNI UI FIB nobar "Laut Bercerita" sebagai apresiasi karya
Baca juga: Kevin Julio: Ini pesan Daniel andai bertemu Biru Laut hari ini
Baca juga: Dian Sastro ingin Kinan hadir sejak film pendek "Laut Bercerita"
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Abdu Faisal
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira