Jakarta (ANTARA) - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mengajak pemerintah daerah dan perguruan tinggi memperluas sosialisasi Program SMK Go Global untuk meningkatkan penyiapan pekerja migran Indonesia yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
"Kementerian P2MI mendorong Program SMK Go Global sebagai salah satu langkah strategis menyiapkan tenaga kerja yang terampil dan sesuai kebutuhan pasar internasional," kata Mukhtarudin saat menerima audiensi perwakilan pemerintah daerah dan perguruan tinggi di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Selasa.
Mukhtarudin mengatakan perluasan sosialisasi program tersebut penting dilakukan mengingat masih banyak peluang kerja di luar negeri yang belum dimanfaatkan tenaga kerja Indonesia.
Berdasarkan data Sistem Informasi Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI) per 25 Oktober 2026, terdapat 278.848 posisi peluang kerja di luar negeri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 72.924 posisi telah terserap, sedangkan 205.924 posisi lainnya masih tersedia.
Menurut dia, besarnya peluang kerja global perlu diimbangi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Indonesia agar mampu memenuhi persyaratan dan kebutuhan negara penempatan.
Mukhtarudin menilai fenomena penuaan penduduk (aging population) di sejumlah negara maju, seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa, menjadi peluang strategis bagi tenaga kerja Indonesia untuk memasuki pasar kerja internasional.
Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang besar dengan dukungan penduduk usia produktif dalam memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
Program SMK Go Global, lanjut Mukhtarudin, merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan 500.000 tenaga kerja yang dapat ditempatkan secara bertahap di luar negeri.
Pemerintah menargetkan penempatan sebanyak 40.000 orang pada 2026, kemudian meningkat menjadi 140.000 orang pada 2027, sebanyak 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.
Mukhtarudin mengingatkan bahwa pendaftaran
Program SMK Go Global Batch II masih dibuka hingga 31 Oktober 2026.
Karena itu, dia mendorong pemerintah daerah dan perguruan tinggi untuk aktif menyebarluaskan informasi program tersebut kepada masyarakat, khususnya calon pekerja migran potensial.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyampaikan pentingnya verifikasi serta perlunya kerja sama dalam penempatan kerja luar negeri.
Ia menyoroti tantangan regulasi di negara penempatan seperti Republik Korea yang masih memerlukan penguatan perlindungan bagi pekerja migran.
"Walaupun pemerintah di sana sudah memiliki regulasi, namun masih kurang terproteksi dalam penempatan kerja di luar negeri, sehingga ke depannya mereka tetap perlu arahan kerja," ujar Abdusy Syakur Amin.
Abdusy menggarisbawahi perlunya jalur resmi (Government to Government atau G2G) yang lebih cepat, tertib hukum, dan terhindar dari birokrasi yang rumit agar peluang kerja tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Sebagai solusi, dia mendorong kolaborasi pemanfaatan fasilitas dan lembaga ketiga yang sudah ada, khususnya dalam hal penyediaan pelatihan kerja yang singkat, padat, dan sesuai kebutuhan pasar internasional.
Baca juga: Kementerian P2MI resmikan Migrant Center dan SMK Go Global di UTB
Baca juga: Menteri P2MI: SMK Go Global siapkan PMI terampil dan berdaya saing
Pewarta: Katriana
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Katriana
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira