Jakarta (ANTARA) -

Konselor kesehatan mental sekaligus psikoterapis Daryl Appleton menuturkan bahwa kebanyakan persahabatan terbangun karena adanya rutinitas bersama.

"Ketika rutinitas berakhir, kita jadi tahu seberapa besar persahabatan itu bergantung pada lingkungan sekitar, dan seberapa besar yang memang murni didasari oleh hubungan antar-individu," katanya sebagaimana dikutip dalam siaran Real Simple pada Selasa (27/10).

Terapis Cheryl Groskopf juga menyampaikan bahwa persahabatan berkembang berkat konsistensi, kedekatan, dan pengalaman bersama.

"Jadi, saat kita tidak lagi sering bertemu, kita kehilangan kesempatan alami untuk menjalin koneksi yang sebelumnya menjaga persahabatan itu tetap hidup," katanya.

Persahabatan dapat retak akibat masalah-masalah kecil yang menumpuk seiring waktu.

Persahabatan juga bisa menjadi renggang atau berakhir secara alami ketika jalan hidup membawa masing-masing individu ke arah yang berbeda.

Namun, hubungan persahabatan yang telah retak atau terputus masih berpeluang untuk dipulihkan.

Upaya untuk menjalin kembali persahabatan yang merenggang atau terputus bisa diawali dengan membuka komunikasi tanpa perlu mengungkit luka lama atau membahas kembali perselisihan yang pernah terjadi.

"Satu kalimat jujur tentang alasan Anda memikirkan mereka jauh lebih berarti daripada satu paragraf permintaan maaf," kata Appleton.

Groskopf menyampaikan bahwa Anda tidak perlu menyampaikan permintaan maaf panjang, penjelasan rumit, atau alasan sempurna untuk menjalin kembali hubungan.

Komunikasi dengan teman lama, menurut Appleton, bisa dimulai dengan menanyakan hal ringan atau mengingat kembali kenangan bersama yang menyenangkan.​​​​​​​

Groskopf sependapat. Menurut dia, lebih baik mengawali komunikasi dengan menyampaikan pesan spesifik dan personal secara tulus, misalnya menyebutkan kenangan favorit atau lelucon khas yang hanya dipahami oleh yang bersangkutan.

Baca juga: Kiat jaga hubungan dengan teman yang berbeda pandangan

Appleton menyampaikan bahwa pihak yang lebih dulu menjauh atau tidak berkabar lebih baik mengaku secara terus terang tanpa perlu mendramatisasi.

Dengan bertanggung jawab atas tindakan sendiri, Anda tidak perlu lagi terjebak dalam pertanyaan tentang siapa yang seharusnya menghubungi atau meminta maaf lebih dulu.​​​​​​​

Appleton juga mengemukakan pentingnya menghindari larut dalam emosi negatif.

"Alih-alih berfokus pada betapa buruknya perasaan Anda karena kehilangan kontak, fokus pada fakta bahwa Anda memikirkan mereka," katanya.

Menurut dia, rasa bersalah justru bisa membuat pihak lain merasa harus berusaha menenangkan atau menghibur, dan kondisi yang demikian tidak nyaman.

Selain itu, orang perlu mengelola harapan ketika memulai komunikasi dengan teman yang sudah lama tidak dihubungi atau menjauh.

Groskopf mengatakan, menghubungi seseorang merupakan sebuah upaya untuk membuka kembali koneksi, bukan jaminan bahwa hubungan itu bisa pulih sepenuhnya.

Orang yang dihubungi bisa merasa sangat senang mendengar kabar dari pihak yang menghubungi, tetapi bisa pula mereka membutuhkan waktu untuk merespons atau memilih untuk tidak melanjutkan komunikasi.

"Anda bisa mengontrol seberapa hangat dan tulus ajakan Anda, tetapi Anda tidak bisa mengendalikan hasilnya," kata Groskopf.

Upaya untuk memulihkan persahabatan tidak selalu bisa mengembalikan hubungan seperti semula, karena masing-masing orang sudah tumbuh dan berubah seiring waktu.

Baca juga: Mayoritas remaja AS sudah coba hubungan pertemanan berbasis AI

Baca juga: Komunikasi berperan penting dalam upaya menjaga hubungan harmonis

Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Farika Nur Khotimah

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira