Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong sekolah menjadi ruang belajar dan inovasi ketahanan pangan melalui Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP), yang telah diterapkan di 1.548 sekolah di Jawa Timur.
"Program SIKAP memberikan gambaran bahwa penguatan ketahanan pangan nasional dapat dimulai dari lingkungan sekolah dan secara langsung melibatkan seluruh warga sekolah," kata Khofifah dalam keterangan diterima di Surabaya, Rabu.
Program tersebut mengantarkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur meraih Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026 kategori Innovation for Public Service yang diselenggarakan TV One.
Penghargaan diserahkan Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Komjen Pol. (Purn.) Purwadi Arianto kepada Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai di Jakarta, Senin (26/10).
Khofifah mengatakan, SIKAP merupakan upaya mendukung ketahanan pangan nasional dan mewujudkan swasembada pangan melalui sektor pendidikan.
Lingkungan sekolah dinilai berpotensi menjadi tempat produktif untuk membudidayakan tanaman pangan dan hewan ternak sekaligus sarana pembelajaran bagi peserta didik.
"Program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto difokuskan pada pencapaian swasembada pangan nasional serta penguatan kedaulatan ekonomi rakyat melalui berbagai kebijakan strategis dan sinergi lintas lembaga. Jawa Timur telah memulai dari sektor pendidikan," ujar Khofifah.
Pada 2026, SIKAP telah diterapkan di 1.548 sekolah yang tersebar di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Jumlah tersebut terdiri atas 596 sekolah menengah atas (SMA), 759 sekolah menengah kejuruan (SMK), dan 193 sekolah luar biasa (SLB).
Khofifah menegaskan, penguatan ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan lahan pertanian yang luas. Sekolah dapat memanfaatkan lahan yang tersedia untuk kegiatan budidaya sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
"Ketahanan tidak harus dari lahan luas yang berhektar-hektar, tetapi dapat dimulai dari lahan seadanya yang kita miliki, dari lahan yang ada di sekolah diolah menjadi lebih produktif," katanya.
Selain mendukung ketahanan pangan, program tersebut memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa melalui kegiatan menanam, merawat, hingga memanen. Aktivitas ini juga membentuk karakter mandiri, disiplin, kreatif, bertanggung jawab, bergotong royong, dan peduli terhadap lingkungan.
"Program SIKAP ini mengajarkan tidak hanya pendidik, dan tenaga kependidikan tetapi juga anak-anak untuk bisa membudidayakan tanaman pangan dan hewan ternak yang dimulai di lingkungan sekolah," katanya.
Khofifah menjelaskan, kegiatan budidaya tersebut juga sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Melalui praktik langsung, siswa dapat memahami proses produksi pangan sekaligus menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.
"Belajar bagaimana cara menanam atau membudidayakan tanaman, hewan, bagaimana agar tanaman dan hewan yang dibudidayakan semakin produktif, dan mengambil pelajaran dari nilai-nilai yang tumbuh dari aktivitas bertanam dan beternak," tuturnya.
Ia menambahkan, keberlanjutan SIKAP membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah, penguatan kapasitas guru, kemitraan, serta pengembangan inovasi.
Sekolah diharapkan mengoptimalkan lahan dan media tanam agar kegiatan budidaya dapat menghasilkan produk pangan secara berkelanjutan.
"Anak-anak ini harus semangat menjaga, memelihara agar semua bisa terus tumbuh subur dan bisa menghasilkan, bisa untuk suplai di internal sekolah," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, SIKAP merupakan bentuk komitmen pemerintah provinsi dalam menyelaraskan inovasi daerah dengan prioritas pembangunan nasional, terutama ketahanan pangan.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Willi Irawan
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira