Yang kami bentengi bukan sekadar fisik BBM-nya, melainkan hak masyarakat kelas bawah dan sektor usaha kecil yang seharusnya menikmati subsidi negara,
Banda Aceh (ANTARA) - Arloji baru menunjukkan pukul 07.00 WIB, tetapi deretan mobil beroda empat, enam, hingga sepuluh sudah mengular di pinggir jalan nasional Banda Aceh–Meulaboh.
Pemandangan antrean kendaraan pemakai Biosolar ini menjadi hal lumrah di hampir seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Aceh Besar dan Banda Aceh.
Para sopir angkutan material, logistik, hingga angkutan umum terpaksa menyela jam kerja demi mendapat giliran mengisi bahan bakar. Deru mesin berpadu kepulan asap tipis terdengar riuh saat kendaraan bergerak maju satu per satu menuju pompa pengisian.
Di tengah deretan panjang kendaraan, Sabirin salah seorang sopir truk material asal Aceh Besar, mengaku sempat khawatir, jika kondisi tersebut terus berlangsung lama akan ikut mempengaruhi buah keringat yang dibawa pulang bagi keluarganya.
Ia menuturkan, demi mendapatkan Biosolar, dirinya terpaksa bangun lebih pagi. Jika kesiangan, antrean sudah mengular dan waktu tunggu bisa mencapai satu jam.
Waktu tunggu tersebut berdampak langsung pada jumlah angkutan material yang bisa ia selesaikan. Sesekali ia mensiasatinya dengan mengantre pada malam hari agar paginya bisa langsung menuju lokasi pengambilan material.
"Kadang untung-untungan juga. Artinya, kalau pas datang antrean belum panjang, kita bisa cepat mengisi minyak lalu lanjut mencari rezeki. Tapi kalau mobil sudah mengular, pilihannya menunggu dulu daripada berisiko kehabisan minyak saat ada muatan," ujarnya.
Baca juga: Pemkab Aceh Tenggara batasi pembelian BBM untuk cegah penimbunan
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · M Ifdhal
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira