Jakarta (ANTARA) - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menekankan pentingnya pengecekan kembali informasi yang beredar di platform media sosial maupun informasi hasil penelusuran alat kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI).
Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Kemkomdigi Marroli Jeni Indarto di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa kehadiran platform digital dan perangkat AI memang memudahkan orang dalam mencari informasi.
Namun, informasi-informasi yang beredar di platform media sosial atau disajikan oleh AI tidak selalu benar.
"Penting untuk kita melakukan intervensi manusia untuk mengecek, terutama check dan recheck," kata Marroli di Kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat.
"Juga penting adalah kita mencari konfirmasi kebenaran pada sumber-sumber yang verified," katanya.
Ia menyampaikan bahwa saat ini algoritma platform digital ikut menentukan informasi yang dikonsumsi oleh masyarakat setiap hari, karena algoritma menyarankan konten berdasarkan aktivitas, minat, atau interaksi pengguna media sosial.
"Kami menekankan bahwa informasi yang ada itu bukanlah satu-satunya kebenaran dan harus kita melakukan check dan recheck," kata Marroli.
Jawaban yang disampaikan oleh AI, menurut dia, juga perlu ditanggapi secara kritis karena alat AI bekerja berdasarkan pola pemakaian penggunanya.
Beberapa pengembang AI pun sudah menyampaikan bahwa jawaban yang disajikan oleh AI tidak selalu benar.
"Makanya kembali perlu adanya namanya check dan recheck dari penggunanya. Intinya adalah AI boleh membantu kita berpikir, tapi kemudian keputusan dan penilaian tetap harus berada di tangan para penggunanya," kata Marroli.
Baca juga: Platform digital dinilai ikut tentukan informasi yang diterima publik
Marroli mengatakan, informasi yang disajikan oleh AI maupun disampaikan di platform media sosial sebaiknya dicek kembali kebenarannya dan disandingkan dengan informasi dari sumber-sumber informasi yang terpercaya.
Sumber informasi yang terpercaya, menurut dia, mencakup publikasi media massa yang sudah diverifikasi oleh Dewan Pers.
Kemkomdigi pada Jumat (23/10) telah meminta Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) yang mengelola platform digital untuk meningkatkan transparansi dalam penggunaan AI dan pengelolaan algoritma guna melindungi hak publik dalam menerima informasi.
Dengan transparansi PSE dalam menggunakan AI dan mengelola algoritma, anggota masyarakat diharapkan dapat mengetahui bagaimana informasi dibuat, ditampilkan, dan didistribusikan di ruang digital.
"AI dapat membantu masyarakat mencari dan memahami informasi, tetapi jawabannya tidak selalu benar," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi Mediodecci Lustarini.
"Karena itu, setiap informasi penting tetap harus diperiksa melalui sumber yang kredibel, terutama jika menyangkut kebijakan pemerintah atau tuduhan terhadap pihak tertentu," katanya.
Baca juga: Nezar soroti pengaruh algoritma dalam distribusi berita ke publik
Baca juga: KPI ajak masyarakat kritis merespons informasi di media sosial
Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Livia Kristianti
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira