Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengembangkan sejumlah model pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) guna mengurangi angka pengangguran lulusan melalui penguatan kompetensi dan penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan salah satu upaya yang dikembangkan adalah Program SMK 3+1, yakni tiga tahun pendidikan di SMK yang dapat dilanjutkan dengan satu tahun pendidikan tambahan bagi murid yang berminat bekerja di luar negeri.
“Ini merupakan sebuah terobosan yang memberikan jawaban langsung bahwa lulusan SMK bisa dan siap bekerja di mana pun di dunia ini,” kata Mendikdasmen Mu'ti saat menyampaikan pesan kunci dalam kegiatan Pelepasan 3000 Lulusan Dikmen Diksus Magang dan Kerja di Luar Negeri yang dipantau secara daring di Jakarta Pusat pada Kamis.
Ia menjelaskan, melalui program tersebut, murid mendapatkan kesempatan untuk mempersiapkan diri agar dapat memasuki pasar kerja internasional dengan keterampilan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang dituju.
Baca juga: Mendikdasmen: Peserta magang jadi promotor Indonesia di luar negeri
Selain SMK 3+1, Kemendikdasmen juga turut mengembangkan model SMK empat tahun yang dirancang melalui kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sejak awal pendidikan.
Mu'ti menyebut model tersebut sebagai SMK tailor made atau pendidikan kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
Melalui skema itu, ia mengatakan sekolah bermitra dengan perusahaan tertentu sehingga murid tidak hanya mengikuti pembelajaran di sekolah, tetapi juga memperoleh kesempatan berlatih langsung di dunia industri.
Dengan demikian, pihaknya berharap lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
Baca juga: Kemendikdasmen perkuat mutu vokasi, 1.4 juta murid SMK ikut TKA
Kemendikdasmen juga mengembangkan SMK berbasis keunggulan lokal untuk menyiapkan murid dengan keterampilan yang sesuai dengan potensi sumber daya alam maupun sosial di daerah masing-masing.
Menurut Mu'ti, pengembangan tersebut dapat diwujudkan melalui sekolah kejuruan yang berfokus pada komoditas dan potensi daerah, seperti kopi, nilam, kelautan, batik, hingga musik.
Ia mengatakan pengembangan berbagai model pendidikan kejuruan itu merupakan bagian dari upaya pihaknya dalam menjawab kritik mengenai tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan SMK.
“Kami berusaha menjawab kritik yang selama ini sering kita dengar bahwa SMK menjadi penyumbang pengangguran yang terbesar. Tentu kita tidak berhenti menjawab kritik itu dengan hanya kata-kata, tapi menjawab kritik itu dengan kerja nyata,” ujar Mu'ti.
Ia menegaskan penguatan pendidikan kejuruan perlu diarahkan agar lulusan memiliki kesiapan memasuki dunia kerja, sebagaimana ditekankan Presiden Prabowo Subianto.
Melalui pengembangan model pendidikan yang terhubung dengan kebutuhan industri, pasar kerja internasional, dan potensi ekonomi daerah, Kemendikdasmen berupaya meningkatkan relevansi pendidikan SMK sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi para lulusannya.
Baca juga: Mendikdasmen ingatkan pentingnya sertifikat pelatihan bagi lulusan SMK
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Hana Dewi Kinarina Kaban
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira