Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama menggelar pelatihan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan di platform Massive Open Online Course (MOOC) Pintar sebagai upaya memperkuat pencegahan dan penanganan kekerasan serta pelecehan seksual di lingkungan pesantren.
Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mengatakan di Jakarta, Senin, bahwa pesantren harus menjadi ruang pendidikan, pengasuhan, dan pembentukan karakter yang aman serta bermartabat bagi seluruh santri. Doktrin agama, otoritas keilmuan, maupun relasi kuasa tidak boleh disalahgunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan dan pelecehan seksual.
"Agama tidak pernah memberikan legitimasi terhadap kekerasan. Karena itu, melalui pelatihan SafeKader ini, kami ingin membangun kesadaran dan kapasitas kolektif agar seluruh elemen pesantren memiliki pengetahuan, keberanian, dan keterampilan untuk mencegah kekerasan, mengenali tanda-tanda risiko, serta memastikan setiap santri memperoleh perlindungan," ujar Basnang.
Basnang Said juga menegaskan bahwa pelatihan bebas kekerasan ini merupakan bagian dari upaya program besar SAFESANTRI yang terdiri dari SafeNorma, SafeKader, SafeIndeks, SafeLapor dan SafeMitra. Pelatihan ini bagi Basnang Said merupakan sub kebijakan yang bernama "SafeKader".
Pendaftaran pelatihan dibuka tanggal 2 hingga 5 November, sementara pelaksanaan pelatihannya akan berlangsung pada 6 hingga 10 November.
Baca juga: Kemenag kembangkan ICBP sebagai basis data bangun ketahanan keluarga
Materi pelatihan di MOOC Pintar dirancang secara komprehensif mencakup pemahaman mendalam mengenai kerangka pencegahan berbasis risiko yang terbagi ke dalam tiga dimensi utama.
Pencegahan primer berfokus pada asesmen risiko, mitigasi, serta edukasi dan kampanye sebelum kekerasan terjadi. Dimensi pencegahan sekunder menekankan pada aspek respons, intervensi cepat, deteksi dini, pelaporan, serta protokol pendampingan korban.
Sementara itu, dimensi pencegahan tersier bertujuan membangun kultur anti-kekerasan secara berkelanjutan dan pelibatan komunitas guna mencegah berulangnya tindakan kekerasan.
Pelatihan ini juga mengadopsi pendekatan Child Safeguarding yang menekankan pentingnya kepemilikan kebijakan perlindungan anak, kode etik perilaku, lingkungan kegiatan yang aman, saluran pelaporan yang ramah anak, serta mekanisme respons dan evaluasi yang transparan.
Senada, Direktur Pemberdayaan Pesantren Kemenag Yusi Damayanti menegaskan bahwa upaya penguatan ekosistem pesantren yang aman dan bebas dari kekerasan memerlukan langkah sistemis, terstruktur, dan melibatkan kesadaran kolektif dari seluruh elemen di lingkungan pesantren.
Baca juga: Menag: Ekosistem keilmuan ulama perempuan dikaji peneliti enam negara
"Diperlukan transformasi yang menyentuh akar, mulai dari tata kelola pengasuhan, pemetaan risiko, hingga pelibatan aktif seluruh warga pesantren melalui kerangka kerja yang holistik," ujar Yusi.
Menurut dia, pencegahan kekerasan harus menjadi bagian dari budaya keseharian di pesantren, bukan hanya dilakukan ketika terjadi sebuah kasus. Karena itu, penguatan kapasitas pengasuh dan seluruh warga pesantren menjadi sangat penting agar mereka mampu menciptakan lingkungan yang aman, mengenali potensi risiko sejak dini, dan memberikan respons yang tepat ketika menghadapi situasi kekerasan.
Dia juga menyoroti pentingnya peran pengasuh, ustadz, dan musyrif-musyrifah dalam mengenali tanda-tanda kerentanan serta membangun komunikasi yang empatik di lingkungan asrama.
Seorang musyrif dan musyrifah, katanya, bukan sekadar pengawas di asrama, melainkan garda terdepan yang harus memiliki kematangan emosional dan kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi.
Melalui pelatihan di MOOC Pintar ini, Kementerian Agama ingin memastikan bahwa setiap pengasuh mampu mendeteksi potensi risiko secara dini serta menciptakan ruang yang aman bagi santri untuk tumbuh dengan penuh kasih sayang dan perlindungan yang nyata.
Kementerian Agama mengimbau kepada para pengasuh pondok pesantren, ustadz dan ustadzah, musyrif dan musyrifah, serta tenaga kependidikan di satuan pendidikan keagamaan untuk segera memanfaatkan kesempatan ini.
Langkah ini diharapkan menciptakan budaya pengasuhan yang menjunjung tinggi kemaslahatan, penghormatan terhadap harkat dan martabat anak, serta mewujudkan pesantren sebagai tempat menimba ilmu yang aman, nyaman, dan berkah.
Baca juga: Wamenag ajak santri tolak empat musuh besar yang dirancang asing
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Mecca Yumna Ning Prisie
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira