Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama menginginkan penyelenggaraan Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS Plus) 2026 jadi panggung unjuk gigi perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) menjawab persoalan masyarakat melalui sains, teknologi, dan riset lintas disiplin.

“Kita ingin menunjukkan bahwa PTKIN sekarang bukan lagi monodisiplin, tetapi sudah multidisipliner dan interdisipliner,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Suyitno menekankan tiga prioritas dalam penyelenggaraan AICIS+, yakni memperkuat substansi penelitian, menampilkan inovasi yang bermanfaat, serta memastikan makalah peserta ditindaklanjuti menuju publikasi ilmiah.

Baca juga: Kemenag sebut panitia AICIS+ 2026 terima 3.420 abstrak dari 21 negara

Konferensi yang disiapkan berlangsung di Cirebon pada 17-20 November 2026 itu didorong menjangkau perguruan tinggi umum.

Suyitno meminta penguatan pendekatan lintas disiplin dimulai dari pemilihan dan pengelompokan makalah. Kajian keislaman perlu dikembangkan melalui pertemuan dengan bidang ilmu lain agar mampu menjawab persoalan aktual masyarakat.

Ia mencontohkan persoalan sampah yang dapat diteliti melalui perspektif biologi, gender, dan bidang keilmuan lainnya. Persoalan tersebut membuka ruang bagi peneliti untuk menghubungkan dimensi lingkungan dengan perilaku serta kehidupan sosial masyarakat.

“Harusnya mengurangi yang terlalu monodisiplin. Yang diutamakan adalah yang sudah mulai interdisipliner dan yang sejalan dengan Asta Cita,” kata dia.

Arah yang sama berlaku dalam pemilihan narasumber internasional. Menurut Suyitno, bidang keahlian dan kontribusi pemikiran pembicara harus menjadi pertimbangan utama agar diskusi benar-benar mempertemukan beragam perspektif keilmuan.

Baca juga: Kemenag perpanjang pendaftaran AICIS+ 2026

“Jangan sampai yang penting luar negeri, tetapi bidangnya Islamic Studies lagi. Kita ingin narasumbernya juga menggambarkan interdisipliner ilmu,” kata dia.

Penguatan substansi akademik juga diarahkan pada ekspo hasil penelitian dan inovasi perguruan tinggi.

Suyitno meminta pameran memberi ruang utama bagi produk riset yang memiliki nilai akademik dan manfaat bagi masyarakat.

“Yang mau kita tonjolkan adalah produk-produk riset. Produk riset itu juga yang bersifat interdisipliner. Kalau ada buku-bukunya tidak apa-apa, tetapi jangan itu yang ditonjolkan,” ujarnya.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron menekankan pentingnya tindak lanjut setelah konferensi. Ia menyampaikan bahwa panitia telah berkoordinasi dengan sekitar 50 jurnal untuk mendukung publikasi karya ilmiah peserta.

Menurutnya, presentasi perlu menjadi kesempatan bagi penulis memperoleh masukan, memperbaiki makalah, dan membangun komunikasi dengan editor jurnal.

Baca juga: Kemenag: Gelaran AICIS+ 2026 fokus pada kajian empiris dan berdampak

Baca juga: Gelaran AICIS+ perkuat citra pendidikan Islam

“Umpamanya dipresentasikan, lalu ada koreksinya. Editor sudah langsung terhubung, supaya karya itu bisa dipublikasikan, entah semester ini atau semester depan,” ujar Sahiron.

Skema tersebut diarahkan untuk memperkuat keberlanjutan proses akademik sekaligus memperluas pengakuan terhadap karya ilmiah PTKIN. Karena itu, hubungan antara penulis, panitia, dan pengelola jurnal perlu terus dikawal setelah kegiatan selesai.

Sahiron juga meminta penguatan diplomasi akademik melalui undangan kepada duta besar atau perwakilan negara mitra. Koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri didorong segera dilakukan untuk membuka peluang perluasan jejaring pendidikan dan kerja sama antarnegara.

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Asep Firmansyah

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira