Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco menegaskan bahwa pencapaian peringkat dan reputasi global perguruan tinggi harus diikuti dengan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Melalui keterangan di Jakarta, Rabu, Badri menyebut peringkat perguruan tinggi tidak semestinya menjadi tujuan akhir, melainkan modal dan kekuatan institusi untuk menghasilkan dampak bagi pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

"Peringkat tinggi bukanlah sebuah trofi untuk disimpan dalam lemari administratif. Ini adalah platform kekuatan dan kemampuan. Nilai sejati dari peringkat universitas berkaitan dengan seberapa efektif kekuatan institusi diterjemahkan menjadi dampak institusi," katanya.

Baca juga: IPB berada di peringkat 42 perguruan tinggi dunia

Badri menilai pemeringkatan perguruan tinggi selama ini banyak dipengaruhi oleh indikator, seperti produktivitas penelitian, jumlah sitasi, dan reputasi institusi di lingkungan akademik.

Menurut dia, indikator tersebut tetap penting dalam menunjukkan kualitas dan daya saing perguruan tinggi secara global. Namun, capaian tersebut perlu diterjemahkan menjadi manfaat yang lebih luas.

Badri menambahkan bahwa prestise global yang diperoleh perguruan tinggi melalui berbagai indikator pemeringkatan, seharusnya menjadi motor penggerak perkembangan sosial.

"Ketika perguruan tinggi semakin berkembang dan memperoleh pengakuan global, tanggung jawabnya untuk berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat juga semakin besar," ujar dia.

Badri menekankan bahwa pendidikan tinggi harus dikembangkan dengan orientasi yang jelas terhadap tujuan. Perguruan tinggi perlu memastikan bahwa setiap kegiatan pendidikan, penelitian, dan inovasi memiliki tujuan serta menjawab kebutuhan masyarakat.

Selain itu, pengembangan kompetensi teknologi juga harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab, dan empati.

Menurut Badri, generasi masa depan tidak cukup hanya dibekali kemampuan untuk mengembangkan teknologi, tetapi juga harus mampu memahami bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk kelompok rentan dan terpinggirkan.

Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan nyata.

Baca juga: Unand peringkat tujuh nasional klaster mandiri perguruan tinggi 2026

Baca juga: UGM di peringkat 100 kampus terbaik dunia versi Times Higher Education

Ia menegaskan bahwa memberikan dampak merupakan ujian sesungguhnya bagi institusi pendidikan tinggi. Dampak tersebut dapat terlihat ketika perguruan tinggi membantu petani lokal meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan terhadap perubahan iklim, maupun ketika teknologi energi bersih hasil pengembangan mahasiswa diterapkan untuk mendukung kebutuhan kota-kota di sekitarnya.

Kontribusi perguruan tinggi juga perlu tercermin dalam kemampuannya mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kesenjangan, dan menjaga kelestarian lingkungan.

"Peringkat memberikan kita kredibilitas untuk memimpin, sedangkan dampak adalah bukti dari apa yang telah kita berikan," ucap Badri.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan tinggi, untuk menempatkan mahasiswa dan talenta masa depan sebagai pusat perhatian dalam setiap pembahasan dan kerja sama.

Kolaborasi antar-perguruan tinggi, pemerintah, dan industri lintas negara perlu diarahkan untuk membangun masa depan pendidikan tinggi yang mampu menjawab tantangan bersama serta menghasilkan manfaat berkelanjutan.

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Sean Filo Muhamad

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira