Yang membuat temuan ini makin menarik adalah pertanyaan apakah para penenun tradisional mempelajari simetri atau transformasi geometri melalui pelajaran matematika formal?

Bandung (ANTARA) - Sepintas, motif-motif pada kain tenun Sumba tampak seperti rangkaian gambar yang disusun untuk memperindah permukaan kain. Ada yang menyerupai kuda, ayam, buaya, penyu, hingga beragam bentuk geometris.

Ketika diamati lebih cermat, motif-motif tersebut ternyata membentuk pola yang teratur dan konsisten. Di balik keindahannya, tersimpan cara berpikir yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Temuan inilah yang menarik perhatian para peneliti etnomatematika. Mereka menemukan bahwa tenun Sumba bukan hanya karya seni dan simbol budaya, tetapi juga menyimpan jejak pengetahuan tentang bentuk, simetri, keseimbangan, dan pola yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Sumba selama berabad-abad.

Mendengar kata matematika, kebanyakan orang akan membayangkan angka, rumus, dan pelajaran di sekolah. Padahal, konsep matematika tidak selalu hadir dalam bentuk yang formal. Dalam banyak komunitas tradisional, kemampuan memahami pola, mengatur ruang, dan menciptakan keteraturan berkembang melalui pengalaman hidup sehari-hari.

Kajian yang mempelajari hubungan antara budaya dan aktivitas matematis dikenal sebagai etnomatematika. Melalui pendekatan ini, berbagai warisan budaya dapat dibaca sebagai hasil kreativitas sekaligus kecerdasan masyarakat dalam memahami lingkungannya.

Kain tenun Sumba menjadi salah satu contoh yang menarik. Selama ini wastra tersebut dikenal karena keindahan dan kerumitan proses pembuatannya. Namun, penelitian menunjukkan bahwa di dalam motif-motifnya tersimpan keteraturan yang dapat dijelaskan melalui konsep geometri modern.

Bagi masyarakat Sumba, kain tenun bukan sekadar penutup tubuh. Kain memiliki fungsi sosial, budaya, dan spiritual yang penting dalam kehidupan masyarakat.

Ada kain khusus yang digunakan dalam upacara adat, pernikahan, hingga ritual yang berkaitan dengan leluhur. Motif yang ditenun bukan dipilih secara sembarangan, melainkan mengandung pesan yang berkaitan dengan identitas dan pandangan hidup masyarakat Sumba.

Di Sumba Timur dikenal dua jenis kain utama, yakni hinggi yang dikenakan laki-laki dan lau yang digunakan perempuan. Melalui kedua kain ini, berbagai simbol budaya diwariskan dari generasi ke generasi.

Penelitian Erwin Ardianto Halim dan rekan-rekannya dari Universitas Kristen Maranatha menunjukkan bahwa susunan ragam hias pada kain hinggi mencerminkan konsep dualisme dan triple pattern. Dua unsur yang berbeda dipertemukan dalam hubungan yang saling melengkapi, sementara unsur ketiga berfungsi sebagai penyeimbang yang menciptakan harmoni.

Kain hinggi juga dapat dibaca sebagai representasi kosmologi masyarakat Sumba. Bidang-bidang pada kain dikaitkan dengan tiga lapisan dunia, yaitu talaba dita (alam atas), la padua (alam tengah), dan talaba wawa (alam bawah). Pembagian ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Sumba memandang hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

Kain tenun Sumba (HO/Gabriel Christofer & Irfan Musyaffa)

Jejak matematis pada ragam hias

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Iwan Santosa ST MKom*)

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira