Jakarta (ANTARA) - Memutuskan untuk resign atau keluar dari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Ada banyak pertimbangan sebelum mengambil keputusan tersebut, mulai dari kondisi keuangan sampai peluang mendapatkan pekerjaan baru.

Namun, bertahan di tempat kerja dengan lingkungan toxic dan tidak ada ruang untuk berkembang juga bukan pilihan yang baik. Menjalaninya akan membuat pikiran terasa berat dan menimbulkan perasaan tidak nyaman.

Lantas, kapan seseorang sebaiknya mulai mempertimbangkan untuk resign? Berikut adalah beberapa tanda yang bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan.

Sulit berkembang di tempat kerja

Bagi pekerja, kesempatan untuk belajar dan mengembangka karier menjadi salah satu hal penting. Bahkan, survei American Psychological Association menemukan bahwa 91 persen respondennya setuju akan hal tersebut.

Salah satu alasan seseorang ingin resign juga bisa disebabkan oleh kurangnya peluang karier. Hal ini akan membuat seseorang kehilangan semangat dan bingung akan tujuan hidupnya. Pekerjaan yang tidak memberikan kesempatan untuk belajar akan membuat seseorang merasa stuck.

Baca juga: 6 tanda kamu mengalami overwork, jangan abaikan gejalanya

Konflik dengan atasan

Mempunyai hubungan yang kurang baik dengan atasan bisa memengaruhi pekerjaan. Biasanya, hal ini ditandai saat atasan tidak menghargai usaha yang sudah dilakukan, sering mengkritik tanpa arahan, terlalu banyak mengontrol, atau sulit dihubungi saat dibutuhkan.

Kondisi ini akan semakin parah jika masalahnya terkait kepribadian bukan pekerjaan. Masalah pekerjaan mungkin bisa dicari solusinya, tetapi kalau masalah kepribadian tidak akan bisa diubah. Jika hubungan sulit diperbaiki, tidak ada salahnya mulai mencari tempat kerja lain.

Merasa tidak dihargai

Mendapat apresiasi kecil dari atasan atau rekan kerja setelah bekerja keras bisa memberikan perasaan bahagia tersendiri. Seseorang akan merasa dihargai usahanya dan lebih termotivasi dalam bekerja.

Sebaliknya, orang yang tidak diapresiasi akan merasa tidak dihargai. Hal ini bisa terjadi saat gaji tidak sesuai dengan beban kerja atau dikritik tanpa masukan yang membangun. Coba bicarakan hal ini ke atasan, tetapi kalau tidak ada perubahan maka pertimbangkan mencari pekerjaan lain.

Diminta melakukan hal yang tidak etis

Salah satu alasan untuk mempertimbangkan resign adalah saat perusahaan meminta karyawan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan etika. Misalnya, diminta melanggar aturan, diikutsertakan dalam praktik ilegal, atau disuruh tutup mulut saat mengetahui praktik mencurigakan.

Masalah ini bukan hanya mengganggu pekerjaan, tetapi juga bisa memunculkan depresi, insomnia, dan anxiety. Keluar hari lingkungan kerja seperti ini bisa membantu melindungi diri dari peluang karier di masa depan.

Baca juga: Menaker: Pelatihan vokasi buka akses kerja dan peluang wirausaha

Kesehatan mental terganggu

Setiap pekerjaan mempunyai tantangannya masing-masing. Namun, apabila pekerjaan sudah membuat seseorang merasa cemas sebelum berangkat kerja, kelelahan saat pulang, takut menghadapi hari kerja, atau mengalami stres berkepanjangan bukanlah hal yang normal.

Kondisi ini bisa terjadi saat diberikan beban kerja di luar batas kemampuan, lingkungan kerja yang toxic, dan tidak ada work life balance. Lama-lama, hal ini bisa membuat seseorang mengalami sakit kepala, gangguan pencernaan, dan sulit tidur.

Banyak yang memilih resign

Banyaknya jumlah karyawan yang keluar bisa menjadi tanda bahwa perusahaan memiliki banyak masalah. Hal ini bisa saja terjadi karena perusahaan sedang ada kasus atau memiliki budaya kerja yang buruk.

Namun, apapun itu penyebabnya, terlalu banyak karyawan yang keluar penting diwaspadai karena bisa menjadi indikasi adanya masalah di tempat kerja. Mulai pertimbangkanlah untuk mencari pekerjaan baru jika mengalami kondisi ini.

Lingkungan kerja yang toxic

Dikelilingi oleh lingkungan kerja yang toxic bisa berdampak buruk pada kesehatan mental pekerjanya. Kondisi ini bisa ditandai saat mempunyai rekan kerja yang suka menjatuhkan, atasan sering merendahkan, tuntutan pekerjaan tidak masuk akal, atau sering ada gosip.

Pekerjaan harusnya berisi lingkungan yang saling mendukung dan positif. Apabila pekerjaan sudah memberikan efek buruk bagi kondisi fisik dan mental, maka sebaiknya pertimbangkan untuk keluar dari pekerjaan.

Baca juga: Apa itu law of attraction? Benarkah pikiran bisa jadi nyata?

Baca juga: Lebih dari 400.000 pekerja industri Jerman ikuti aksi protes upah

Pewarta: Raissa Kusuma Hapsari
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Raissa Kusuma Hapsari

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira