Nggak ada, kita nggak impor bekas. Pokoknya buat rakyat harus yang baru

Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Persero atau KAI Bobby Rasyidin menegaskan pemerintah tidak jadi mengimpor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang.

"Nggak ada, kita nggak impor bekas. Pokoknya buat rakyat harus yang baru," ujar Bobby di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis.

Bobby menyampaikan pemerintah mengutamakan industri dalam negeri untuk pemenuhan kebutuhan rangkaian kereta rel listrik (KRL).

PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA disebut menjadi salah satu pemasok KRL baru. Namun, ia juga tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan perusahaan asing.

"Salah satunya, mungkin sebagian INKA. Wajib mendukung industri dalam negeri," katanya.

Ia menyampaikan saat ini kebutuhan yang paling diprioritaskan adalah tersedianya delapan rangkaian KRL dari total 23 trainset baru.

Baca juga: INKA berkomitmen sempurnakan KRL sesuai syarat operator dan regulator

Baca juga: KAI tegaskan penanganan kendala KRL INKA ditangani serius

Lebih lanjut, Bobby mengatakan rencana pengadaan 23 rangkaian KRL tersebut akan dipercepat dalam 2-3 tahun.

"Banyak, jadi ada 8 yang urgent kemudian total 23 trainset. Kita akan percepat 2 sampai 3 tahun 23 trainset baru," imbuh Bobby.

PT KAI sempat mengusulkan impor KRL bekas dari Jepang, yang disampaikan langsung oleh Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin kepada Komisi VI DPR RI dan disetujui.

Bobby menyatakan, pihaknya membutuhkan tambahan sebanyak 23 trainset untuk operasional KRL Jabodetabek, yang rencananya dipenuhi dengan pengadaan KRL bekas.

Kebutuhan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu pertama terdapat 7 trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8, yang mana kebutuhan tambahan armada muncul seiring lonjakan pengguna KRL Jabodetabek.

Baca juga: Danantara: Transformasi INKA diperlukan guna penuhi kebutuhan domestik

Baca juga: Danantara bertemu Menhub bahas rencana impor KRL bekas dari Jepang

Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia / Fathur Rochman
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Maria Cicilia Galuh Prayudhia / Fathur Rochman

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira