Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menilai Jakarta sebagai pusat acara atau epicentrum of event menjadi alasan perekonomian Jakarta tumbuh sebesar 5,87 persen pada Triwulan III-2026.

“Ekonomi Jakarta di Q3 ini di 2026 tumbuh 5,87 persen. Meningkat dari 5,52 persen dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional 5,47 persen. Ini mencerminkan bahwa apa yang kami lakukan dengan yang saya sebut dengan epicenter of event itu dampaknya terlihat, terpotret dari apa yang kemudian dirilis oleh BPS,” kata Pramono di kawasan Jakarta Utara, Jumat.

Lebih lanjut Pramono mengatakan bahwa inflasi Jakarta juga tercatat di angka 2,52 dan merupakan yang terendah di seluruh Jawa-Bali, bahkan juga terendah di seluruh Indonesia.

Menurut dia, hal itu dapat dicapai karena Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang memantau kondisi lapangan dengan baik.

“Salah satu faktor-faktor yang menyebabkan inflasi di Jakarta adalah daging, beras, ubi, cabe, perhiasan, dan sebagainya karena memang dipantau dan dimonitor dengan baik, sehingga terjaga. Padahal, biasanya Jakarta itu untuk inflasinya paling sensitif. Tapi kali ini kita bisa pertahankan, kita jaga di angka 2,52,” jelas Pramono.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menyampaikan bahwa perekonomian Jakarta pada triwulan III-2026 yang tumbuh 5,87 persen secara tahunan berkontribusi 16,09 persen terhadap perekonomian nasional, tertinggi dibandingkan provinsi lainnya.

Baca juga: Ekonomi DKI triwulan III-2026 berkontribusi tertinggi ke nasional

"DKI Jakarta menyumbang sebesar 16,09 persen dalam kue ekonomi nasional dan pada triwulan II-2026, kontribusi DKI Jakarta ini adalah 16,32 persen," kata Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto.

Dia menyebutkan, empat provinsi dengan pangsa pasar (share) terbesar terhadap perekonomian nasional setelah DKI Jakarta, yakni Jawa Timur (14,36 persen), Jawa Barat (12,71 persen), Jawa Tengah (8,17 persen), dan Sumatera Utara (5,30 persen).

Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan III-2026 secara tahunan yang sebesar 5,87 persen, berada di urutan keenam secara nasional.

Di posisi pertama Maluku Utara dengan pertumbuhan sebesar 16,65 persen, diikuti Kepulauan Riau (7,52 persen) pada posisi kedua, lalu peringkat berikutnya berturut yakni Nusa Tenggara Barat (7,39 persen), Kalimantan Utara (6,34 persen), Sulawesi Tengah (5,96 persen), dan Jawa Barat (5,89 persen).

"Hampir seluruh provinsi tumbuh positif kecuali provinsi Papua Tengah. Provinsi DKI Jakarta tumbuh sebesar 5,87 persen, masih di bawah Jawa Barat yang sebesar 5,89 persen, dan provinsi yang tumbuh paling tinggi yaitu Maluku Utara dengan pertumbuhan double digit yaitu sebesar 16,65 persen," kata Kadarmanto.

Baca juga: Ekonomi Jakarta tumbuh 5,87 persen pada triwulan III 2026

Baca juga: Dorong pertumbuhan ekonomi, DKI perkuat kolaborasi dengan investor

Baca juga: TPID Jakarta perkuat sinergi untuk kendalikan inflasi

Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Lifia Mawaddah Putri

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira