Dengan ketidakpastian MSCI yang belum mereda dan tekanan eksternal yang meningkat, kami tetap berhati-hati. Arus dana asing dan stabilitas rupiah akan semakin menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya

Jakarta (ANTARA) - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti pentingnya selektivitas investor dalam memilih saham perbankan dengan fundamental pendanaan yang kuat di tengah tekanan jual investor asing dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, meski pembelian domestik sejauh ini membantu menyerap outflow asing, peningkatan tekanan jual menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan dukungan tersebut.

“Dengan ketidakpastian MSCI yang belum mereda dan tekanan eksternal yang meningkat, kami tetap berhati-hati. Arus dana asing dan stabilitas rupiah akan semakin menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya,” ujar Rully dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Di tengah kondisi pasar tersebut, kata Rully, fundamental sektor perbankan turut menjadi perhatian investor.

Berdasarkan analisis riset Mirae Asset, pertumbuhan kredit perbankan melambat menjadi 12,7 persen secara tahunan pada September 2026, dari 13,3 persen pada Agustus 2026.

Perlambatan disebut terutama berasal dari kredit investasi yang terkontraksi 0,2 persen secara bulanan, antara lain akibat tekanan pada segmen konstruksi.

Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) membaik menjadi 8,2 persen (year-on-year/yoy), dengan total dana mencapai Rp9.896 triliun. Rasio current account and savings account (CASA) meningkat menjadi 64,9 persen.

Namun, kenaikan pendanaan tersebut diikuti peningkatan biaya dana, tercermin dari kenaikan suku bunga deposito di berbagai tenor. Kondisi ini berpotensi menekan margin bunga bersih (NIM) perbankan ke depan.

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menilai penurunan rasio loan-to-deposit (LDR) perbankan menjadi 91,7 persen pada September 2026 dari 92,7 persen pada bulan sebelumnya belum mencerminkan perbaikan likuiditas yang struktural.

Di sisi lain, suku bunga deposito tenor satu bulan naik menjadi 5,3 persen, sedangkan tenor tiga bulan mencapai 5,9 persen.

“Kami melihat penurunan LDR ini sebagai kelonggaran sementara, bukan perbaikan likuiditas yang struktural. Kenaikan biaya dana juga mengindikasikan potensi tekanan margin ke depan,” kata Nurkholis.

Di tengah volatilitas pasar, Mirae Asset menekankan investor perlu mencermati arus dana asing, stabilitas rupiah, serta kemampuan bank mengelola likuiditas dan biaya pendanaan dalam menentukan strategi investasi.

Baca juga: Mirae Asset: Keputusan BEI keluarkan saham-saham HSC memang diperlukan

Baca juga: Mirae Asset nilai usulan MSCI berpotensi tekan pasar obligasi

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Imamatul Silfia

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira