Beijing (ANTARA) - Indonesia membidik investasi energi terbarukan dari China yang dikenal unggul dalam teknologi energi terbarukan.
"Ketika kita berbicara mengenai energi terbarukan dan energi berkelanjutan, persoalannya bukan sekadar kualitas transaksi yang kita lakukan tapi juga tentang bagaimana kita membentuk masa depan umat manusia," kata Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar di Beijing, Senin.
Irene menyampaikan hal tersebut dalam forum bisnis Indonesia-China bertajuk "Mobilizing China RE Investment into Indonesia" yang dihadiri oleh sekitar 150 orang peserta dari kalangan usaha baik Indonesia maupun China.
Laporan mengungkapkan bahwa pada 2025, emisi karbon dioksida China dibandingkan Produk Domestik Bruto (PDB) turun sebesar 17,7 persen dibandingkan dengan 2020. Sumber energi non-fosil mencakup 21,7 persen dari total konsumsi energi nasional dengan kapasitas terpasang gabungan tenaga angin dan surya di China mencapai 1,84 miliar kilowatt sedangkan volume cadangan hutan meningkat menjadi 20,99 miliar meter kubik.
Sementara hingga paruh pertama 2026, total kapasitas terpasang energi terbarukan di China telah mencapai 2,46 miliar KW, yang mencakup 60,7 persen dari kapasitas pembangkit listrik nasional atau melampaui kapasitas tenaga batu bara untuk pertama kalinya pada akhir Juli 2026.
"Forum ini bukan hanya tentang membangun penghargaan bersama antara dua negara atau melakukan transaksi bersama. Ini tentang bagaimana kedua negara dapat membangun hubungan demi dunia yang lebih baik," ungkap Irene.
Di China sendiri, Irene menyebut China juga dikenal sebagai kebangkitan ekonomi kreatif.
"Bukan hanya drama pendek, tetapi kita juga melihat bagaimana industri gim membentuk perekonomian," tambah Irene.
Sementara Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) di Beijing Rizaldi Indra Janu mengatakan investor China telah memainkan peran penting dalam pengembangan industri dasar yang kompetitif, membantu membangun basis tenaga kerja dan jaringan bisnis regional.
"Sebagai contoh, kerja sama otomotif hingga barang-barang rumah tangga, masih terdapat ruang yang cukup besar untuk memperluas kerja sama ke sektor energi, pertanian, ekonomi digital yang berkembang pesat, layanan kesehatan, dan berbagai industri utama lainnya," ungkap Rizaldi.
Rizaldi menyebut pemerintah Indonesia ingin melihat lebih banyak perusahaan China tidak hanya berinvestasi di Indonesia di luar industri dasar semata.
Pemerintah Indonesia, sebut Rizaldi saat ini mendorong investasi di bidang hilirisasi dan mineral penting, kendaraan energi baru dan energi terbarukan, pusat data dan ekonomi digital, industri kesehatan, ketahanan pangan dan sektor prioritas lainya.
"Sebagai contoh, di Jawa Barat, khususnya kawasan Cikarang dan Jababeka, investor dapat memperoleh akses terhadap ekosistem otomotif, elektronik, industri, dan logistik yang kuat. Kemudian di Batam, Kepulauan Riau, kita melihat peluang dalam kegiatan ekspor dan manufaktur, industri tekstil, serta komponen mineral," jelas Rizaldi.
Sedangkan di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Bali, menawarkan potensi dalam bidang peralatan medis dan usaha yang berkaitan dengan makanan.
"Bagi investor, kuncinya adalah bagaimana memilih lokasi yang sesuai dengan peluang usaha mereka. Pemilihan lokasi yang tepat dapat meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan sekaligus mendorong pertumbuhan usaha," tambah Rizaldi.
Rizaldi juga menyebut pemerintah melakukan optimalisasi insentif dan kesiapan regulasi dilakukan dengan memaksimalkan insentif investasi sekaligus memastikan kesiapan perizinan dan kepatuhan melalui sistem yang terintegrasi dan transparan.
Insentif dan fasilitas tersebut mencakup pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan selama 5–20 tahun, pengurangan penghasilan neto untuk investasi hingga 30 persen, pengurangan penghasilan bruto sebesar 200 atau 300 persen, penyederhanaan perizinan melalui sistem OSS RBA, serta regulasi yang jelas dan ramah bagi investor.
Tidak kalah penting, kemitraan lokal yang kuat dibangun melalui hubungan saling percaya dengan pemerintah, badan usaha milik negara, dan pelaku usaha swasta lokal untuk mempercepat akses pasar dan pertumbuhan usaha.
Kemitraan tersebut mencakup dukungan pemerintah daerah, kerja sama dengan badan usaha milik negara dan mitra swasta lokal, keterlibatan asosiasi usaha dan klaster industri, serta pengembangan talenta dan pertukaran pengetahuan.
Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi China daratan di Indonesia sepanjang 2021 hingga semester I 2026 mencapai 38,34 miliar dolar AS, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 37 persen dan penyerapan 553.492 tenaga kerja lokal.
Realisasi investasi tercatat sebesar 3,2 miliar dolar AS pada 2021, kemudian 8,2 miliar dolar AS pada 2022, 7,4 miliar dolar AS pada 2023, 8,1 miliar dolar AS pada 2024, 7,5 miliar dolar AS pada 2025, serta 3,8 miliar dolar AS hingga triwulan II 2026.
Lima sektor investasi terbesar dari China adalah industri logam dasar senilai 17,2 miliar dolar AS atau 45 persen; transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar 5 miliar dolar AS atau 13 persen; kimia dan farmasi sebesar 3,9 miliar dolar AS atau 10 persen; perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar 2,6 miliar dolar AS atau 7 persen; serta listrik, gas, dan air sebesar 1,6 miliar dolar AS atau 4 persen.
Secara geografis, Sulawesi menerima investasi terbesar sebesar 15,47 miliar dolar AS atau 40,4 persen, disusul Jawa sebesar 11,92 miliar dolar AS atau 31,1 persen, Maluku dan Papua sebesar 7,52 miliar dolar AS atau 19,6 persen, Sumatera sebesar 1,98 miliar dolar AS atau 5,2 persen, Kalimantan sebesar 1,32 miliar dolar AS atau 3,5 persen, serta Bali dan Nusa Tenggara sebesar 0,13 miliar dolar AS atau 0,3 persen.
Sementara lima provinsi penerima investasi terbesar dari China daratan adalah Sulawesi Tengah sebesar 14,16 miliar dolar AS atau 37 persen, Maluku Utara sebesar 7,09 miliar dolar AS atau 18 persen, Jawa Barat sebesar 5,39 miliar dolar AS atau 14 persen, Jakarta sebesar 2,33 miliar dolar AS atau 6 persen, serta Banten sebesar 1,65 miliar dolar AS atau 4 persen.
Baca juga: China dan Indonesia perluas kerja sama sektor energi baru
Baca juga: Pameran industri energi Taiyuan perkuat momentum kerja sama RI-China
Baca juga: Pertamina NRE gandeng China garap proyek energi bersih di Indonesia
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Desca Lidya Natalia
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira