Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendorong penanganan kebakaran hutan lahan (karhutla) secara tuntas perlu dilakukan untuk dapat menjaga tumbuh kembang anak-anak Indonesia khususnya di area yang terdampak tetap optimal sebagai generasi emas 2045.
Ketua IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A (K) mengatakan penanganan karhutla secara tuntas merupakan solusi utama agar semua masalah kesehatan pada anak yang tinggal dan terdampak karhutla dapat segera selesai.
"Dampak penanganan atau pengobatan akibat karhutla terhadap kesehatan maupun aspek lainnya itu tidak terkira ya, tidak ternilai. Jadi saya kira kalau ditanya apa upaya solusi terbaik ya pemadaman hutan secepat-cepatnya, pemadaman kebakaran hutan dan lahan secepat-cepatnya," kata dokter Piprim dalam diskusi daring yang diikuti di Jakarta, Rabu.
Baca juga: Alasan anak tak boleh main hujan "pertama" di area terdampak karhutla
IDAI menegaskan terus berkomitmen untuk merawat dan menangani secara medis anak-anak yang menghadapi masalah kesehatan akibat terjadinya karhutla.
Dalam diskusi tersebut, Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Khairiyadi, Sp.A, Subsp.Respi.(K), M.Kes membagikan pengalamannya dalam menangani anak-anak yang terdampak permasalahan kesehatan pernapasan akibat karhutla kali ini.
Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu menjelaskan dalam paparan materinya memang terdapat peningkatan penanganan pasien anak dengan penyakit respirasi dalam beberapa waktu terakhir bertepatan dengan terjadinya karhutla.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak ditemui di tempatnya berpraktik. Dengan kenaikan dimulai dari bulan Agustus 2026 dengan jumlah pasien yang ditanganinya mencapai 21 pasien dan angka itu naik hingga 37 pasien di Oktober 2026.
Baca juga: IDAI: Anak lebih rentan terdampak asap karhutla
Selain ISPA, dokter Khariyadi menjelaskan beberapa pasien anak yang ditanganinya dengan penyakit bawaan seperti asma selama terjadinya karhutla ternyata sering kali mengalami asma berulang.
"Jadi ada beberapa pasien dengan asma yang sudah terkontrol, bahkan ada yang sudah tidak memakai kontroler. Dalam musim kemarau ini yang tahun 2026 dia datang bisa sampai dua atau tiga kali," kata dokter Khariyadi.
Oleh karena itu, IDAI mendorong pemerintah segera menuntaskan penanganan karhutla sehingga dapat menjaga kualitas hidup anak-anak yang akan mengisi posisi penting sebagai generasi emas 2045 sejalan dengan visi Indonesia.
"IDAI tentu saja berkomitmen tetap mengawal kesehatan anak-anak Indonesia dengan berbagai edukasi supaya kita tetap menyaksikan anak-anak kita tumbuh dengan baik dan berkembang dengan baik," kata dokter Piprim.
Baca juga: IDAI bagikan kiat cegah dampak buruk asap karhutla pada anak
Baca juga: IDAI minta pemerintah prioritaskan kesehatan anak saat karhutla
Baca juga: IDAI bagikan langkah pencegahan dampak karhutla pada anak
Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Livia Kristianti
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira