Palembang (ANTARA) - Hujan lebat mulai mengguyur sejumlah kawasan di Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu, yang disambut suka cita oleh masyarakat setelah lebih dari tiga bulan dilanda musim kemarau panjang.

"Alhamdulillah, hari ini hujan mulai turun setelah beberapa bulan Kota Palembang dilanda kekeringan dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," kata Fudin, salah seorang warga Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Kota Palembang, Sabtu.

Menurut dia, hujan lebat yang mengguyur Kota Palembang sekitar pukul 15.30 WIB tersebut membawa berkah bagi masyarakat, terutama mereka yang mengalami kesulitan air bersih dan kebakaran lahan yang marak terjadi di daerah itu akibat kemarau panjang.

"Akibat kemarau panjang berdampak pada kabut asap kebakaran lahan yang menyelimuti Kota Palembang selama beberapa bulan terakhir hingga mengganggu kesehatan masyarakat di wilayah itu," kata Fudin.

Hal senada dikatakan Yuli, warga Lorong Sepakat, Kelurahan 8 Ulu Palembang yang mengaku selama kemarau masyarakat setempat kesulitan mendapat air bersih untuk kebutuhan sehari-hari sehingga terpaksa membeli air dengan harga yang cukup mahal.

Baca juga: BPBD Sumsel: Penyemaian dry ice dijadwalkan selama 10 hari

"Dengan turunnya hujan hari ini kami sangat senang karena tidak lagi harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari selama beberapa hari ke depan," ujarnya.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang Siswanto menjelaskan potensi pertumbuhan awan hujan memang telah terdeteksi berdasarkan pengamatan radiosonde atau profil atmosfer oleh BMKG Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang pada Sabtu (24/10) pukul 07.00 WIB.

Kondisi ini dipicu oleh dinamika pergerakan angin vertikal yang berhasil memecah lapisan inversi, sebuah lapisan atmosfer penghambat yang selama ini mengunci polutan asap di dekat permukaan tanah.

Selain itu, potensi hujan ini juga didorong oleh percepatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara hybrid yang dilancarkan tim gabungan, termasuk dengan menyebar material dry ice (karbon dioksida padat) secara intensif di udara guna mengurai gumpalan kabut asap karhutla Sumsel.

Baca juga: BMKG prediksi Sumsel masuki musim hujan pertengahan November 2026

"Hujan di Palembang dan sekitarnya hari ini dapat kami sampaikan bahwa secara dinamika atmosfer memang mendukung pembentukan awan hujan dan ditambah dampak dari OMC dengan bahan semai NaCl. Memang secara data model pada 24 Oktober 2026 diprakirakan akan ada potensi pertumbuhan awan hujan sehingga tim memaksimalkan dengan OMC," ujarnya.

Pewarta: Edo Purmana
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Edo Purmana

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira