Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Saldi Isra menyebutkan tiga kunci untuk menjadi pemuda/pemudi yang berdampak bagi bangsa dan negara yakni membaca, menulis dan berkomunikasi.
Tiga kunci ini dibagikan Saldi, dalam talkshow Open House dan Ngopi Bareng Courtizen Jilid V dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda di Gedung I MK, Jakarta, Rabu.
"Dari catatan saya paling tidak kita memang harus memperbaiki minat baca. Yang kedua, memperbaiki kemampuan menulis, ditambah yang ketiga kemampuan berkomunikasi," ujar Saldi.
Hakim asal Sumatera Barat ini mengisahkan perjalanan karirnya yang menurut kalangan Gen-Z "tersesat di jalan yang benar". Latar belakang pendidikan SMA-nya adalah jurusan Fisika. Selama SMA, ia memperoleh nilai Ebtanas tertinggi di rayon 4 Sumatera Barat, dan meraih juara umum di lima semester.
Namun, Saldi gagal meraih kesempatan masuk perguruan tinggi melalui jalur penelusuran minat, dan kemampuan (PMDK) dan ujian tertulis. Karena jurusan yang dia sasar waktu itu adalah teknik di ITB. Tiga kali gagal mendaftar perguruan tinggi jurusan teknik tahun 1988, 1989 dan 1990. Meski sempat ikut bimbingan belajar selama 6 bulan, lagi-lagi gagal masuk jurusan teknik yang diinginkannya.
Pada kesempatan keempat, Saldi memilih tidak belajar sama sekali, karena sudah mulai memikirkan bagaimana mempertahankan hidup, tapi tetap jurusan teknik menjadi pilihan pertama, pada kolom pilihan ketiga masih ragu untuk memilih, sampai seorang rekan menyarankan-nya untuk memilih fakultas hukum.
"Jadi sebetulnya saya tidak punya pengetahuan sama sekali untuk kuliah di Fakultas Hukum, semester pertama saya hanya mengeluh saya. Berbeda kalau jurusan fisika dan matematika banyak menguasai formula, kerjakan soal gampang saja. Tapi Fakultas Hukum baca banyak buku, baca banyak pasal dan segala macam," ucapnya.
Di semester pertama Fakultas Hukum, Saldi memperoleh indeks prestasi (IP) 3,71. Lalu di semester kedua mulai memperbaiki diri, hasilnya meraih IP 4,00.
"Nah di situ saya mulai menyadari jangan-jangan saya berbakat kuliah di Fakultas Hukum," ujarnya.
Menurut Saldi, ketiga kebiasaan yang ditanamkan sejak masa pendidikan, menjadi modal dasarnya hingga kini mampu menduduki jabatan wakil ketua di lembaga yang dijuluki penjaga konstitusi.
Saldi menulis skripsi tentang judicial review kewenangan menguji peraturan perundang-undangan di tahun 1994 dimana belum banyak praktisi hukum yang menulis soal itu. Salah satunya di tahun 1993 ditulis oleh Pro. Sri Soemantri.
Ia menekankan kemampuan membaca harus diperbaiki terutama bagi pemuda yang mengambil studi di bidang ilmu sosial. Begitu pula kemampuan menulis.
"Jadi kalau sudah baca banyak, nanti diikuti dengan menulis itu akan menuju titik yang agak lengkap, ditambah yang ketiga kemampuan berkomunikasi dengan baik. Nah, kalau ketiga modal ini bisa dimiliki, saya berfikir tidak ada halangan untuk bisa maju menjadi generasi yang lebih baik," ucapnya.
Ia mencontohkan Founder Distrik Berisik dan Sekolah Tanah Air Rian Fahardhi yang tampil sebagai salah satu pembicara dalam acara yang sama sebelum Saldi.
Menurut Saldi, Rian sebagai tokoh pemuda yang memiliki ketiga kemampuan tersebut, sehingga dalam setiap penyampaian pemikiran dengan lisan yang luar biasa baik, jarang mendapat somasi atau teguran dan dipahami banyak orang. Karena, tidak banyak orang yang seperti itu.
"Ada banyak orang memiliki pengetahuan yang cukup dalam tapi kalau disuruh bicara kadang-kadang tidak paralel antara kemampuannya menguasai bahan itu dengan bicara di depan publik. Saya kira (Rian) ini menjadi salah satu contoh generasi muda yang berdampak," kata Saldi.
Ia juga berpesan agar para mahasiswa agar tidak terlalu mengandalkan gawai, kecerdasan buatan (AI). Di satu sisi ada manfaatnya, tetapi kalau terlalu bergabung dengan AI, ada sisi yang membuat ketergantungan, sehingga mengalami kerugian. Salah satu contohnya, generasi sekarang mulai tidak terbiasa menulis dengan baik.
Saldi mengungkap, caranya memaksakan diri menulis semasa kuliah memberikan manfaat kepadanya ketika menjadi hakim. Karena, salah satu tugas hakim adalah membuat putusan.
"Jadi memadukan antara membaca sudah pasti, membaca permohonan, lalu disampaikan di persidangan dan terakhir harus menulis ke dalam naskah putusan. Jadi (hakim) ini karir yang memadukan membaca, menulis dan bicara," kata Saldi.
Saldi membagikan tips dan pengalaman hidupnya kepada 63 peserta "Open House dan Ngopi Bareng Courtizen" Jilid V yang diselenggarakan oleh MK. Peserta merupakan kalang muda yang berasal dari berbagai kalangan, ada yang mahasiswa, pengacara hingga pengajar.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Laily Rahmawaty
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira