Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) mengalami erupsi disertai luncuran awan panas yang jarak luncuran tidak teramati karena tertutup kabut pada Selasa siang.
"Letusan disertai awan panas dengan jarak luncur tidak teramati dan visual Gunung Semeru tertutup kabut," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Menurut dia, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mengalami erupsi pada pukul 12.06 WIB, namun tinggi kolom abu vulkanik dan letusan tidak teramati karena tertutup kabut. Erupsi itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi ± 4 menit 44 detik.
Baca juga: Getaran banjir lahar Semeru terekam selama enam jam
Berdasarkan catatan petugas, Gunung Semeru mengalami erupsi sebanyak empat kali pada Selasa sejak pukul 00.34 WIB hingga 12.52 WIB dengan visual letusan tidak teramati.
Ia menjelaskan saat ini Gunung Semeru berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
"Masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," katanya.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," kata Agastya.
Baca juga: Getaran banjir lahar Semeru hampir 4 jam tidak ganggu aktivitas warga
Baca juga: Gunung Semeru erupsi disertai awan panas guguran
Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Zumrotun Solichah
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira