Semarang (ANTARA) - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi optimistis produksi padi pada 2026 di wilayah tersebut mampu memenuhi target, seiring dengan hujan yang mulai turun di sejumlah daerah.
"Alhamdulillah kemarin sudah mulai hujan, semoga sampai Desember nanti kita mampu mencapai target," katanya, di Semarang, Sabtu.
Ia menjelaskan Jateng merupakan salah satu penumpu pangan nasional, dengan produktivitas padi di provinsi berjumlah penduduk hampir 38 juta jiwa tersebut mencapai sekitar 11,5 juta ton pada 2025.
Pada mulai Januari-September 2026, produktivitas padi sudah mencapai 8,5 juta ton, dan hingga akhir tahun ditargetkan bisa mencapai 10,5 juta ton.
Sebelum itu, Pemerintah Provinsi Jateng juga telah melakukan langkah antisipasi dan penanganan dampak kemarau terhadap lahan pertanian.
Antisipasi itu sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari, mulai pemetaan daerah rawan, kesiapan infrastruktur seperti waduk dan embung, saluran irigasi tersier dan sekunder, hingga kolaborasi.
Di Jateng, tercatat ada 242.826 hektare sawah tadah hujan dengan intervensi melalui irigasi perpompaan dan 530.748 hektare sawah irigasi yang diintervensi dengan jaringan irigasi tersier.
Selain itu, asuransi gagal panen untuk lahan pertanian yang terkena puso dan lainnya juga sudah disiapkan untuk melindungi 10 ribu hektare lahan pertanian dengan risiko puso atau gagal panen.
"Asuransi gagal panen untuk mem-'backup', jadi jangan sampai nanti kena puso, kena banjir, dan gagal panen. Itu nanti akan membantu masyarakat kita, khususnya para petani agar tetap mempunyai modal dasar," katanya.
Baca juga: Mentan siapkan 7.000 pompa air bantu petani Jateng atasi kekeringan
Baca juga: Uni Eropa danai 150 penggilingan padi ramah lingkungan di Jateng-Jatim
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jateng Defransisco Dasilva Tavares mengatakan beberapa daerah memang memiliki kearifan lokal terkait pertanian.
Ada daerah yang hanya memiliki dua kali musim tanam dengan diselingi komoditas pertanian lain seperti di wilayah Pantura, namun ada juga daerah dengan tiga kali musim tanam dan panen.
"Tapi semua petani itu sebenarnya tergantung pada air, kalau ada air mereka pasti akan menanam padi,” katanya.
Untuk mendorong produktivitas padi, Pemprov Jateng juga memiliki program Pilar Jateng yang menyediakan sistem pemetaan infrastruktur lahan, irigasi, dan alat mesin pertanian beserta kondisi.
Menurut dia, semua terlaporkan secara terkini sehingga perencanaan pembangunan pertanian bisa presisi atau tepat sasaran.
"Dari situ kita bisa tentukan intervensi atau bantuan yang akan diberikan kepada kelompok tani," katanya.
Baca juga: 4.348 pompa air dipasang untuk genjot produksi padi di Jateng
Baca juga: Studi: Perubahan iklim dapat pangkas produksi padi, jagung, dan tebu
Baca juga: Mentan: Pemerintah jaga produksi padi di tengah ancaman El Nino 2026
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Zuhdiar Laeis
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira