Kalau saya yakin, jangka panjang kita sangat punya peluang. Jadi kalau MSCI, kita melihatnya jangka pendek yang memang ada shock di situ. Dan kita berharap, tentu kalau isu-isu yang menjadi concern itu sudah di-address, tentunya dia akan bisa berbali

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai dampak pengumuman MSCI mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia yang memicu arus modal keluar (outflow) hanya bersifat jangka pendek.

Ia juga meyakini perbaikan tata kelola (governance) yang terus diupayakan oleh regulator pasar modal dapat menarik kembali investor asing dalam jangka panjang.

“Kalau saya yakin, jangka panjang kita sangat punya peluang. Jadi kalau MSCI, kita melihatnya jangka pendek yang memang ada shock di situ. Dan kita berharap, tentu kalau isu-isu yang menjadi concern itu sudah di-address, tentunya dia akan bisa berbalik lagi,” kata Destry dalam acara Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis.

Destry meyakini fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan memiliki potensi besar untuk menarik investasi jangka panjang.

Menurut dia, pengumuman MSCI dapat menjadi momentum bagi pemangku kepentingan untuk mempercepat perbaikan pasar modal, terutama dalam aspek transparansi, tata kelola, dan regulasi.

Perbaikan tersebut dinilai penting untuk menjawab kekhawatiran investor terhadap pasar modal Indonesia.

Destry memandang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah melakukan berbagai langkah perbaikan yang diharapkan dapat memulihkan kepercayaan investor.

Pada kesempatan tersebut, ia turut menceritakan pandangan seorang analis saham yang menilai harga saham Indonesia relatif murah, dengan PER sekitar 7 kali dan level harga yang disebut telah kembali ke posisi 1993, sehingga dinilai belum mencerminkan besarnya potensi ekonomi domestik.

Destry juga mengungkapkan bahwa sejumlah investor asing masih memandang Indonesia secara positif karena potensi ekonominya yang besar. Salah satunya adalah pimpinan global sebuah bank asing besar yang menyayangkan pengumuman MSCI.

Investor tersebut, menurut dia, menilai pasar Amerika Serikat (AS) memiliki risiko tersendiri karena kapitalisasi pasar sahamnya telah mencapai sekitar 2,4 kali produk domestik bruto (PDB), dengan dominasi sektor teknologi. Sementara itu, sejumlah negara Eropa menghadapi persoalan rasio utang yang tinggi dan defisit anggaran yang lebar.

Kondisi tersebut membuat investor asing masih memandang Asia, khususnya Indonesia, sebagai tujuan investasi yang menarik.

Oleh sebab itu, ujar Destry, langkah cepat OJK dalam merespons isu MSCI serta koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) diharapkan dapat menjaga kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Baca juga: Dolar hampir Rp18.200, BI sebut rupiah masih dipengaruhi Timur Tengah

Baca juga: BI dorong pengembangan PUVA beralih dari fondasi ke aktivitas pasar

Baca juga: BI terus memantau pergerakan rupiah di tengah gejolak pasar

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Rizka Khaerunnisa

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira