Mereka membentuk kelompok dan dikelola oleh kelompok

Karangasem, Bali (ANTARA) - Kehadiran fasilitas Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Seraya Timur, Kabupaten Karangasem, Bali, membantu menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan sekaligus memperluas jangkauan pemasaran ikan.

Pengelola Kampung Nelayan Merah Putih Seraya Timur I Wayan Suarjana saat ditemui di Karangasem, Bali, Rabu, mengatakan fasilitas penanganan hasil perikanan dari hulu hingga hilir membuat hasil tangkapan nelayan dapat dikelola lebih baik sebelum didistribusikan ke pasar.

KNMP Seraya Timur saat ini mengelola sekitar 425 nelayan yang tersebar di sejumlah wilayah Desa Seraya Timur.

"Kalau sebelum itu, kami secara mandiri. Mereka membentuk kelompok dan dikelola oleh kelompok. Kelompok itu yang memasarkan. Jadi, kualitas juga tidak dipertimbangkan, harga juga karena saat ikan banyak, kelompok menjadi kewalahan distribusinya," ujarnya.

Menurutnya, sebelum adanya KNMP, nelayan mengelola dan memasarkan hasil tangkapan secara mandiri melalui kelompok masing-masing.

Menurutnya, kondisi tersebut kerap menimbulkan kendala ketika hasil tangkapan melimpah, terutama dalam menjaga kualitas ikan dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Melalui fasilitas KNMP, penanganan hasil tangkapan kini dilakukan secara lebih terstruktur.

Fasilitas yang tersedia meliputi pabrik es, cold box, chiller, cold storage, serta mobil boks untuk mendukung distribusi.

Fasilitas tersebut memungkinkan ikan yang baru didaratkan segera mendapatkan penanganan agar kualitasnya tetap terjaga. Sementara hasil tangkapan yang belum langsung dipasarkan dapat disimpan sebelum didistribusikan.

Suarjana yang juga menjabat Ketua Koperasi Desa Merah Putih Seraya Timur menjelaskan ikan tongkol menjadi komoditas tangkapan paling dominan nelayan Seraya Timur. Selain itu, terdapat sejumlah jenis ikan lainnya, termasuk ikan dasar berukuran besar yang ditangkap oleh nelayan khusus.

Dari sisi pemasaran, hasil tangkapan nelayan kini dapat didistribusikan ke sejumlah wilayah di Bali, seperti Klungkung, Denpasar, Badung, Tabanan, dan Buleleng. Bahkan, ketika pasokan pasar di Bali sudah terpenuhi, hasil tangkapan pernah dikirim hingga Banyuwangi.

Ia menilai, fasilitas KNMP memberikan dampak terhadap peningkatan nilai ekonomi hasil tangkapan. Sebelumnya, ikan yang tidak terserap pasar terkadang harus dijemur atau diolah menjadi produk lain karena keterbatasan penanganan dan distribusi.

"Jadi yang semulanya, saat ada panen itu tidak bisa dijual, mereka jemur atau dibuat apa, sekarang sudah menjadi pendapatan nilai rupiah," katanya.

Meski demikian, pengelolaan hasil tangkapan masih menghadapi kendala keterbatasan kapasitas penyimpanan. Menurut Suarjana, kapasitas Air Blast Freezer (ABF) yang tersedia sekitar satu ton, sehingga belum mampu menampung seluruh hasil tangkapan ketika musim panen berlangsung bersamaan.

Dengan kapasitas penyimpanan yang terbatas, hasil tangkapan harus segera didistribusikan agar kualitas ikan tidak mengalami penurunan.

Padahal, ketika hasil tangkapan melimpah, penanganan membutuhkan ruang penyimpanan yang memadai.

"Yang perlu dioptimalkan ini penyimpanan. Begitu hasil ada, kapasitas penyimpanan itu hanya ABF-nya satu ton. Kalau pas ada panenan, dua atau tiga kapal sudah mencukupi satu ton. Jadi, yang lain tidak ter-cover," katanya.

Karena itu, pihaknya berharap pemerintah dapat menambah kapasitas ABF dan cold storage agar seluruh hasil tangkapan nelayan dapat tertangani dengan baik, terutama ketika produksi meningkat.

Selain fasilitas penyimpanan, kebutuhan pembaruan kapal dan alat tangkap juga menjadi perhatian nelayan.

Ia mengatakan bantuan kapal perlu disesuaikan dengan karakteristik perairan dan kebiasaan nelayan setempat yang selama ini menggunakan kapal tradisional dengan layar.

Menurutnya, bantuan kapal yang tidak sesuai dengan model dan kebutuhan nelayan berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal. Nelayan juga membutuhkan pembaruan kapal karena sebagian armada yang digunakan sudah berusia tua.

Alat tangkap pun perlu mendapat perhatian karena kerap mengalami kerusakan akibat kondisi cuaca maupun aktivitas kapal lain yang melintas. Dalam setahun, alat tangkap bahkan bisa diganti hingga dua kali.

Suarjana berharap pengembangan KNMP dapat terus dioptimalkan sehingga manfaat program semakin dirasakan masyarakat pesisir, baik dalam menjaga mutu hasil tangkapan, memperluas pemasaran, maupun meningkatkan pendapatan nelayan.

Baca juga: KNMP Seraya Timur disiapkan jadi motor ekonomi pesisir Karangasem

Baca juga: Bali satukan nelayan lewat Kampung Nelayan Merah Putih Seraya Timur

Pewarta: Rolandus Nampu
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Rolandus Nampu

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira