Denpasar, Bali (ANTARA) - Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan pengembangan pusat data atau data center hingga penyimpanan energi (energy storage) menjadi pasar dari program hilirisasi mineral Indonesia sepanjang 2026–2030.

“Menjelang 2030, permintaan akan semakin dipengaruhi oleh kendaraan listrik, energy storage, elektronik, energi terbarukan, pengembangan jaringan listrik, serta pusat data,” ujar Koordinator Kerja Sama dan Investasi Minerba Ditjen Minerba Kementerian ESDM Yan Abrar dalam Indonesia-Korea Energy Forum (IKEF) yang digelar di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu.

Yan menyampaikan Indonesia ingin memprioritaskan hilirisasi untuk proyek-proyek yang layak secara komersial, bertanggung jawab terhadap lingkungan, serta terhubung dengan kebutuhan industri yang nyata.

Penetapan kriteria prioritas hilirisasi tersebut dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwasanya investasi dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan, pembiayaan, hingga tuntutan untuk memenuhi standar ESG yang semakin tinggi.

Baca juga: Inalum: Hilirisasi terbukti pacu nilai tambah dan serap tenaga kerja

Oleh karena itu, pemerintah memetakan potensi pasar yang akan menjadi sasaran dari produk-produk hasil hilirisasi mineral RI.

“Indonesia menerapkan hilirisasi secara selektif, bukan hilirisasi tanpa pertimbangan ekonomi,” ujar Yan.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberi gambaran terkait produksi mineral Indonesia.

Hingga September 2026, Indonesia memproduksi 23,43 juta ton bijih bauksit; 57,24 kiloton (kt) bijih timah; 34,6 kt refined tin (hasil pemurnian bijih timah); 114,9 juta ton bijih tembaga; 1,47 juta ton konsentrat tembaga dan 257 kt katoda; 225,3 juta ton bijih nikel; 419,08 kt feronikel; serta 60,81 kt nikel matte.

Baca juga: Indofarma perkuat hilirisasi biodiversitas lewat teknologi dan riset

Adapun produksi nikel Indonesia terkonsentrasi di Maluku Utara, yakni sebesar 38 persen; Sulawesi Tenggara sebesar 36 persen; dan Sulawesi Tengah sebesar 21 persen.

“Namun, volume produksi saja tidak menjamin daya saing. Kita juga harus mengatasi sejumlah tantangan operasional dan struktural, seperti cuaca ekstrem, gangguan pelayaran, serta logistik antarpulau yang memengaruhi ketepatan waktu,” kata Yan.

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Putu Indah Savitri

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira