Samarinda (ANTARA) - Nilai ekspor Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada September 2026 naik 7,51 persen dibanding bulan sebelumnya, didorong oleh meningkatnya harga komoditas di pasar global serta permintaan dari negara mitra dagang.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kaltim Mas'ud Rifai di Samarinda, Rabu, menyampaikan bahwa nilai ekspor Kaltim pada September 2026 mencapai 2,02 miliar dolar AS, lebih tinggi ketimbang Agustus yang tercatat 1,88 miliar dolar AS.
Peningkatan ini bersumber dari naiknya nilai ekspor migas sebesar 37,18 persen dan ekspor nonmigas sebesar 6,08 persen.
"Dibanding September tahun lalu, nilai ekspor juga mengalami kenaikan signifikan, yaitu naik 20,50 persen, dari 1,67 miliar dolar AS menjadi 2,02 miliar dolar AS," ujar Mas'ud Rifai.
Baca juga: Menko Pangan ingin ekspor CPO langsung tanpa negara perantara
Perbaikan harga komoditas di pasar dunia menjadi pendorong utama kinerja ekspor yang positif ini. Harga batu bara acuan Newcastle pada September 2026 naik menjadi 143 dolar per ton, lebih tinggi ketimbang rata-rata Agustus yang tercatat 130,67 dolar dolar per ton.
Sementara harga minyak dunia juga menunjukkan tren naik, dari rata-rata 90,9 dolar per barel pada September tahun lalu, menjadi 116,8 dolar per barel pada September 2026.
Kenaikan harga pupuk urea dunia juga tercatat sebesar 4,49 persen, dari 390 dolar AS menjadi 407,5 dolar per ton pada periode yang sama.
Ia mengatakan, peningkatan harga ini beriringan dengan menguatnya permintaan dari sejumlah negara mitra dagang, seperti impor batu bara India pada September 2026 naik 4,9 persen menjadi 6,4 juta ton, dengan pasokan dari Indonesia meningkat dari 0,1 juta ton menjadi 0,2 juta ton.
Baca juga: Indonesia berpeluang pertahankan surplus perdagangan hingga akhir 2026
“Vietnam juga meningkatkan impor batu bara secara kumulatif hingga pertengahan Oktober 2026, melebihi 60 juta ton atau naik 11,2 persen secara tahunan, sehingga pasokan dari Indonesia tumbuh 15,7 persen. Impor batu bara Jepang juga naik 12,3 persen pada September 2026,” katanya.
Sektor kelapa sawit pun menunjukkan permintaan menguat. Impor minyak sawit India naik 4,5 persen secara bulanan dan 15,6 persen tahunan yang menjadi 817.884 ton, tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Malaysia juga mencatat peningkatan impor minyak sawit sebesar 17,25 persen pada September.
Dari sisi komoditas unggulan Kaltim, golongan bahan bakar mineral masih menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas dengan kontribusi 74,13 persen. Peningkatan nilai ekspor juga tercatat pada komoditas lemak dan minyak nabati serta produk turunannya sebesar 18,24 persen.
Pewarta: M.Ghofar
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · M.Ghofar
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira