Jakarta (ANTARA) - Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman memperkirakan fenomena El Nino Godzilla berpotensi meningkatkan inflasi pangan hingga 4,38 poin persentase (ppt) pada 2027.
Tekanan inflasi pangan berisiko melonjak seiring gangguan produksi pertanian akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga setidaknya semester I 2027.
”Kami memperkirakan, tanpa intervensi pemerintah untuk menstabilkan suplai dan harga pangan, inflasi pangan bisa melonjak hingga 4,38 ppt di tengah skenario El Nino kuat,” kata Faisal di Jakarta, Senin.
Sementara itu, dalam skenario El Nino moderat, inflasi pangan diperkirakan bertambah 2,88 poin persentase.
Adapun dalam skenario El Nino lemah, kenaikannya diperkirakan mencapai 1,35 poin persentase.
"Dengan demikian, kenaikan inflasi pangan akibat El Nino bisa menyumbang sekitar 0,27-0,88 poin presentase terhadap inflasi umum," jelasnya.
Risiko tersebut juga dipengaruhi oleh permintaan pangan yang tetap kuat, salah satunya didorong oleh pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Faisal, tekanan inflasi ke depan juga berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan risiko kenaikan biaya bahan baku impor.
Di sisi lain, kenaikan harga energi global berpotensi semakin menambah tekanan inflasi sekaligus membatasi ruang fiskal pemerintah untuk mempertahankan subsidi energi.
Bank Permata memperkirakan kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 10 persen dapat menambah inflasi umum sekitar 0,73 poin persentase, yang terdiri atas dampak langsung sebesar 0,39 poin persentase dan dampak lanjutan sebesar 0,34 poin persentase.
Dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi hingga akhir 2026, Faisal memperkirakan inflasi umum bakal mencapai sekitar 3,13 persen pada akhir tahun, naik dibandingkan 2,92 persen pada akhir 2025.
Baca juga: CORE: Manajemen stok antardaerah penting redam risiko inflasi pangan
Baca juga: Ekonom OCBC ingatkan potensi inflasi pangan ASEAN akibat El Nino
Untuk tahun 2027, Faisal memperkirakan inflasi akan tetap berada di atas 3 persen hingga setidaknya semester I sebelum berangsur mereda pada semester II.
Secara keseluruhan, ia memproyeksikan inflasi mencapai sekitar 2,94 persen pada akhir 2027.
“Namun, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berlanjut sehingga mendorong kenaikan harga energi global dalam waktu lebih lama, dampak El Nino terhadap harga pangan yang lebih besar dari perkiraan, serta guncangan pasar portofolio yang berkaitan dengan MSCI dan memicu pelemahan rupiah lebih dalam, dapat mendorong inflasi melampaui proyeksi baseline kami,” ujar Faisal.
Adapun berdasarkan rilis inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) Oktober 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat mengalami inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), melandai dibandingkan inflasi September 2026 sebesar 0,30 persen (mtm).
Meski demikian, inflasi pangan masih menjadi kontributor utama inflasi bulanan, terutama akibat kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat. Penurunan harga emas turut menahan laju inflasi pada Oktober.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi umum tercatat sebesar 3,23 persen pada Oktober 2026, sedikit turun dibandingkan 3,28 persen pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, inflasi inti melambat dari 2,84 persen menjadi 2,56 persen (yoy).
Secara kumulatif, inflasi Januari-Oktober 2026 mencapai 2,40 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,10 persen.
Baca juga: Bank Mandiri sebut El Nino berpotensi kerek inflasi hingga 3,5 persen
Baca juga: BI siapkan langkah mitigasi risiko inflasi akibat El Nino
Baca juga: BI-Pemerintah perkuat program pengendalian inflasi guna hadapi El Nino
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Bayu Saputra
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira