Konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional, selain ekspor, investasi, dan belanja pemerintah.
Jakarta (ANTARA) - Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 masih berada di atas 5 persen.
Aktivitas konsumsi masyarakat, ekspor, investasi, serta belanja pemerintah dinilai masih menjadi komponen yang menopang pergerakan ekonomi nasional. Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada Kamis (5/11).
“Kalau hitungan saya, masih di atas 5 persen,” kata Piter dalam keterangannya, di Jakarta, Minggu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional, selain ekspor, investasi, dan belanja pemerintah.
Terlebih, konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi lebih dari separuh terhadap perekonomian Indonesia, sehingga aktivitas konsumsi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan.
Piter juga menyoroti adanya perbedaan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi secara agregat tidak selalu mencerminkan pengalaman ekonomi yang sama pada setiap kelompok masyarakat.
Hal itu karena aktivitas ekonomi digerakkan oleh kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan dan kemampuan konsumsi yang berbeda.
Ia menilai bahwa kelompok menengah atas masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan konsumsi, sementara sebagian kelompok masyarakat bawah menghadapi tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga. Meski demikian, aktivitas konsumsi tetap berlangsung dengan kondisi dan kemampuan yang tidak sama.
“Jadi mungkin sekarang ini ekonomi kita lebih digerakkan oleh kelompok menengah atas yang masih berkonsumsi. Di kelompok bawah mungkin konsumsinya turun, tapi kan mereka masih berkonsumsi juga baik itu dengan bantuan, bansos atau mereka makan tabungan, mereka masih berkonsumsi juga,” ujar Piter pula.
Ia mengingatkan bahwa kondisi konsumsi masyarakat perlu dilihat secara lebih menyeluruh. Menurut Piter, masih berlangsungnya aktivitas konsumsi tidak serta-merta menunjukkan seluruh kelompok masyarakat memiliki daya beli yang sama.
Sebagian masyarakat masih mampu mempertahankan pola konsumsi, sementara sebagian lainnya harus menyesuaikan pengeluaran, bahkan menggunakan tabungan atau berutang untuk memenuhi kebutuhan.
“Bedanya adalah, yang harus kita akui, ada yang konsumsinya masih banyak, ada yang konsumsinya itu kurang, ada yang konsumsinya itu masih foya-foya, ada yang sudah makan tabungan, ada yang sudah makan utang, tapi mereka semuanya itu masih konsumsi,” kata Piter.
Dalam konteks tersebut, Piter menilai komunikasi mengenai kondisi perekonomian perlu disampaikan dengan data yang lebih jernih, agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai perkembangan ekonomi nasional.
Menurutnya, indikator pertumbuhan ekonomi perlu dibaca bersama kondisi konsumsi dan aktivitas ekonomi yang berlangsung di tengah masyarakat.
Ia pun menilai perbedaan proyeksi di kalangan ekonom lebih banyak berkaitan dengan besaran angka pertumbuhan, bukan mengenai apakah perekonomian Indonesia masih tumbuh positif atau tidak.
“Sebenarnya para ekonom sepakat kalau kita tumbuh positif, cuma bedanya adalah angkanya berapa, ada yang mengatakan di bawah 5 persen, ada yang mengatakan di atas 5 persen, tapi ada di kisaran 5 persen,” kata Piter pula.
Baca juga: Pemerintah targetkan pertumbuhan ekonomi perluas kesejahteraan rakyat
Baca juga: Menekraf dorong desa jadi pusat pertumbuhan ekonomi kreatif
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Rizka Khaerunnisa
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira