Jakarta (ANTARA) - Belakangan foto dan video kucing yang tinggal di tempat umum seperti stasiun kereta dan pusat belanja sering menjadi viral di platform media sosial, mendorong orang untuk mendatangi, melihat, berinteraksi, atau sekadar memfoto kucing-kucing tersebut.
Saat dihubungi ANTARA pada Kamis, drh. Trima Naimmah menyampaikan bahwa fenomena yang sering disebut selebriti kucing atau "selebcat" itu di satu sisi dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap hewan, terutama kucing.
Menurut lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor itu, fenomena yang demikian juga menghadirkan peluang untuk mengedukasi masyarakat mengenai kesejahteraan hewan di ruang publik.
Namun, perhatian dan stimulasi yang berlebihan juga bisa mempengaruhi kondisi kucing-kucing yang tinggal di tempat umum, apalagi kalau kucingnya pernah punya trauma dalam berhubungan dengan manusia.
"Setiap individu kucing itu memiliki respons, karakter, toleransi yang berbeda ketika didekati, dielus, difoto, bahkan dikerumuni," kata drh. Trima.
"Bisa jadi kucingnya merasa tidak nyaman, takut, atau bahkan langsung menyerang jika karakternya memang garang," kata anggota Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) itu.
Ia menjelaskan, tanda kucing mengalami stimulasi berlebih antara lain napasnya cepat, jantungnya berdebar kencang, dan ekornya digerakkan seperti mencambuk.
Selain itu, kucing bisa menggeram, mendesis, telinganya mengarah ke belakang, pupilnya membesar, rambutnya berdiri tegak, serta berusaha menepis atau mencakar atau menggigit tangan orang yang hendak memegangnya.
Baca juga: Ciri-ciri kucing mengalami dehidrasi dan cara mengatasinya
Kegiatan vaksinasi rabies pada kucing di Kudus, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)
Dokter hewan Trima mengingatkan bahwa makhluk hidup, termasuk kucing, bukan objek hiburan. Jadi, sebaiknya berusaha bijak jika ingin menunjukkan kasih sayang pada kucing di tempat umum.
"Baiknya kita lihat dulu situasi kucing, apakah sedang santai, juga jangan berikan gerakan mendadak yang membuat dia kaget," katanya.
"Sebaiknya juga biarkan kucing mendekat sendiri, sampai dia mencium dan mengendus tangan kita misalnya, itu bisa jadi tanda dia bersedia kontak dengan kita," ia menambahkan.
Ia mengatakan bahwa kucing yang mau dielus bukan berarti bersedia dielus terus menerus.
"Jadi elus sewajarnya, jangan berlebihan, jangan berikan gerakan tiba-tiba yang membuatnya kaget," katanya.
Dia menekankan bahwa rasa sayang terhadap kucing tidak hanya bisa dicurahkan dengan menyentuh, menggendong, atau mengajak bermain kucing.
Menurut dia, menjaga jarak agar kucing bisa merasa nyaman di tempat dia berada juga merupakan bentuk kasih sayang terhadap kucing.
Baca juga: Cheng Lei berbagi cerita tentang kucing kesayangannya
Baca juga: Jakarta Pusat sedia layanan vaksinasi dan sterilisasi hewan gratis
Pewarta: Suci Nurhaliza
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Suci Nurhaliza
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira