Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis obstetri dan ginekologi sub-spesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi Dr.dr. Kanadi Sumapradja, Sp.O.G, Subsp.F.E.R.,M.Sc mengatakan bahwa mood swing atau perubahan suasana hati secara mendadak pada perempuan tidak melulu disebabkan karena persoalan menjelang menopause.

“Karena adanya fluktuasi tadi maka tentu terjadi penurunan estrogen atau terjadi dominasi hormon progesteron misalnya memang menyebabkan perubahan mental state yang menyebabkan mood swing dan itu bisa terjadi bukan hanya pada menopausee tapi juga pada penggunaan obat-obatan tertentu yang menyebabkan penurunan estrogen,” kata Kanadi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

Penanggung jawab program pendidikan subspesialis bidang fertilitas, endokrinologi dan reproduksi FKUI itu menambahkan bahwa perubahan suasana hati juga berkaitan dengan perubahan fisik dan mental tak hanya bergantung pada satu faktor melainkan multi faktor yang perlu dianalisa lebih jauh.

Sementara untuk menghadapi kondisi mood swing pada perempuan, ia mengatakan bahwa tubuh memiliki cara adaptasi masing-masing.

Baca juga: Menopause dini sebelum usia 45 tahun, kenali tanda dan penanganannya

“Semua orang punya cara masing-masing untuk beradaptasi pada perubahan fisik dan mental dan ini yang dikenal dengan copying system dan ini juga mungkin berhubungan dengan bagaimana ia menjalani hidupnya sehari-hari dan seterusnya dan support system di sekelilingnya akan mendukung perubahan ini,” katanya.

Dukungan orang terdekat bagi perempuan yang mengalami perubahan ini berpengaruh pada bagaimana ia beradaptasi dengan perubahan, mengenali dengan baik dan memahami apa yang terjadi terutama pada masa transisi menuju menopause.

Kanadi mengatakan bahwa perempuan akan mengalami masa perimenopause yakni periode transisi menuju menopause yang ditandai dengan perubahan siklus menstruasi, penurunan fungsi ovarium dan fluktuasi kadar hormon.

Tahap perimenopause ini berlangsung pada usia 40-44 tahun dan menopause biasanya berlangsung saat memasuki usia 45-55 tahun.

Sementara pascamenopause adalah periode setelah menopause yaitu tidak mengalami menstruasi selama kurang lebih 12 bulan berturut-turut akibat berhentinya fungsi ovarium.

Gejala perimenopause meliputi gangguan haid, gangguan tidur, gejala kognitif seperti sulit konsentrasi, mudah lupa dan brain fog kemudian perubahan urogenital, perubahan kesehatan tulang dan jantung, nyeri, perubahan fisik hingga perubahan mood.

Baca juga: Karakteristik unik wanita Indonesia saat alami peralihan menopause

Baca juga: Studi ungkap banyak perempuan belum kenali tanda perimenopause

Baca juga: Kebiasaan yang bantu tingkatkan kualitas tidur saat perimenopause

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Sinta Ambarwati

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira