Jakarta (ANTARA) - Pemilihan stimulator kolagen dalam prosedur estetika medis perlu mempertimbangkan kondisi kulit, karakteristik bahan, teknik penyuntikan, serta risiko komplikasi agar tindakan dapat dilakukan secara tepat dan aman.

Stimulator kolagen merupakan bahan yang digunakan dalam prosedur estetika untuk merangsang pembentukan kolagen, protein yang berperan dalam menjaga struktur, kekencangan, dan elastisitas kulit. Salah satu bahan yang digunakan adalah poly-L-lactic acid (PLLA).

Dokter estetika dr. Venny Veronica, MSc (UK), yang berpraktik di BMDERMA Clinic Jakarta, mengatakan pemilihan bahan dan teknik aplikasi perlu disesuaikan dengan kondisi kulit.

“Pemilihan produk yang tepat, pemahaman terhadap anatomi dan karakteristik kulit, serta teknik aplikasi yang sesuai akan menentukan hasil yang optimal,” kata Venny dalam keterangan tertulis, Kamis.

Ia menjelaskan, stimulator kolagen berbahan PLLA bekerja dengan merangsang respons jaringan untuk membentuk kolagen secara bertahap. Karena itu, hasil perawatan tidak muncul seketika, melainkan membutuhkan waktu seiring proses pembentukan kolagen.

Baca juga: Dokter: Perawatan stimulator kolagen perlu perhatikan aspek keamanan

Dalam penggunaannya, karakteristik partikel bahan, distribusi di jaringan, dan respons biologis tubuh menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan. Perbedaan formulasi dan teknik aplikasi dapat memengaruhi hasil perawatan serta risiko komplikasi.

Salah satu risiko penggunaan stimulator kolagen adalah terbentuknya nodul atau benjolan di jaringan, termasuk granuloma, yakni kumpulan sel peradangan yang dapat terbentuk sebagai respons terhadap bahan tertentu. Komplikasi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, antara lain karakteristik bahan, teknik penyuntikan, dan respons tubuh.

Karena itu, perlu berkonsultasi dengan dokter yang kompeten sebelum menjalani prosedur. Dokter perlu menjelaskan manfaat yang diharapkan, risiko dan keterbatasan tindakan, alternatif perawatan, serta langkah penanganan jika terjadi komplikasi.

Instruksi perawatan setelah penyuntikan perlu dipahami, kata dr. Venny. Pada sejumlah formulasi PLLA, pemijatan setelah tindakan dapat dianjurkan sesuai protokol produk untuk membantu distribusi bahan. Kebutuhan perawatan lanjutan perlu mengikuti karakteristik produk dan petunjuk klinis yang berlaku.

Seiring perkembangan teknologi estetika, produsen mengembangkan formulasi PLLA dengan karakteristik partikel yang berbeda, termasuk mikrosfer dengan ukuran lebih seragam. Namun, klaim bahwa karakteristik partikel tertentu dapat menghilangkan peradangan atau mencegah komplikasi sepenuhnya perlu dinilai berdasarkan bukti klinis yang memadai.

Salah satu produk yang menggunakan teknologi mikrosfer PLLA adalah Julaine yang dipasarkan sebagai stimulator kolagen generasi terbaru. Produk tersebut menggunakan partikel dengan ukuran lebih seragam dan tidak memerlukan pemijatan khusus setelah penyuntikan. Meski demikian, kebutuhan perawatan setelah tindakan tetap perlu mengikuti petunjuk penggunaan produk dan penilaian dokter.

Venny menekankan bahwa hasil prosedur estetika tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan, tetapi juga oleh kompetensi dokter dan kesesuaian tindakan dengan kondisi pasien.

Baca juga: Dokter tekankan keamanan dalam pemilihan stimulator kolagen

Baca juga: Stimulasi kolagen menjadi pendekatan perawatan kulit seiring penuaan

Baca juga: Dokter jelaskan mekanisme regenerasi kolagen kulit ‎

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Ida Nurcahyani

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira