Kami ingin memastikan investasi yang dijalankan dapat menciptakan nilai jangka panjang sekaligus mendukung pengembangan sektor-sektor strategis
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyatakan imbal hasil dan dampak strategis menjadi perhatian utama dalam pengelolaan investasi.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Patria Sjahrir, dalam keterangan pers yang dikutip di Jakarta, Rabu, menyoroti pentingnya investasi yang menyeimbangkan imbal hasil komersial dengan dampak strategis.
Pandu menilai pengelolaan risiko berlapis dan disiplin keuangan diperlukan agar investasi berjalan berkelanjutan sekaligus mendukung agenda pembangunan ekonomi.
"Setiap investasi perlu mempertimbangkan imbal hasil komersial dan dampak strategisnya, dengan tetap menerapkan pengelolaan risiko dan disiplin keuangan. Kami ingin memastikan investasi yang dijalankan dapat menciptakan nilai jangka panjang sekaligus mendukung pengembangan sektor-sektor strategis Indonesia," ujar Pandu.
Pandu memaparkan sejumlah proyek strategis, salah satunya proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste-to-energy) senilai sekitar 1,5 miliar dolar AS.
Penerbitan obligasi untuk proyek tersebut memperoleh permintaan hampir empat kali lipat dari nilai yang ditawarkan (oversubscribed), yang mana sekitar 75 persen dari total permintaan tersebut berasal dari investor Amerika Serikat dan Eropa.
Menurut Pandu, tingginya minat tersebut mencerminkan kepercayaan investor global terhadap proyek dan prospek pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.
Adapun sebelumnya, Danantara Indonesia menyampaikan target investasi proyek industri strategis mencapai 20 hingga 30 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp361,4 triliun hingga Rp542,1 triliun dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa menyebut Danantara menyiapkan lebih dari 40 proyek strategis dalam kerangka pengembangan lima tahun ke depan.
Sejumlah proyek tersebut sedang melalui proses studi kelayakan (feasibility study/FS) dan dapat dilanjutkan ke tahap perancangan teknik awal (front-end engineering design/FEED) sesuai kebutuhan.
Menurut dia, portofolio tersebut mencakup lima klaster industri utama, yakni energi; pangan dan teknologi kesehatan; infrastruktur, mobilitas, dan telekomunikasi; pertahanan, maritim, dan dirgantara; serta material maju.
Adapun klaster keenam mencakup industri lainnya, termasuk elektronika, permesinan, teknologi finansial, dan semikonduktor.
Baca juga: BP BUMN-Danantara ubah Danareksa jadi operator kawasan industri
Baca juga: Danantara fokus pada ekspansi bisnis dalam restrukturisasi PTPN I
Baca juga: Danantara: Pembangkit listrik nuklir penting bagi ketahanan nasional
Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Imamatul Silfia
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira