Jakarta (ANTARA) - Director Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia Tiza Mafira menyampaikan peningkatan investasi energi baru dan terbarukan (EBT) terjadi akibat fluktuasi harga batu bara, minyak, dan gas bumi yang dipengaruhi oleh gejolak geopolitik.
“Kenapa ini naik investasinya? Gara-gara harga minyak bumi, batu bara, dan gas yang naik turun banget ketika ada perang, ada krisis,” ujar Tiza dalam media training dengan tema "Penguatan Kapasitas Media dalam Diskursus Energi Surya Nasional" yang digelar oleh Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) di Jakarta, Jumat.
Tiza menyampaikan bahwa pada 2026, investasi energi secara global mengalir dua kali lipat lebih banyak ke energi terbarukan apabila dibandingkan dengan investasi untuk energi batu bara dan migas.
Menurut Tiza, fenomena tersebut menunjukkan keinginan para investor untuk mengurangi ketergantungan dengan minyak dan gas bumi di negara mereka.
Selain itu, Tiza juga menyampaikan peningkatan investasi di sektor energi baru dan terbarukan didorong oleh keinginan masing-masing negara meningkatkan bauran energi bersih.
“Cara untuk mengurangi ketergantungan pada volatilitas harga energi fosil fuel salah satunya adalah dengan cara diversifikasi ke energi terbarukan. Itulah mengapa kalau ditanya pendanaan, justru pendanaan sekarang lagi banyak-banyaknya mengalir ke energi terbarukan,” ujar Tiza.
Baca juga: Pemerintah dorong investasi kelistrikan 100 GW dan penguatan EBT
Baca juga: Gubernur NTB tawarkan pariwisata dan investasi EBT ke delegasi UEA
Tiza mengungkapkan peta pembiayaan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terus meningkat di Indonesia, termasuk peluang pendanaan hijau global, serta kriteria yang dinilai bank dan investor untuk menentukan kelayakan pembiayaan (bankability) sebuah proyek.
Menurutnya, keyakinan investor tidak hanya dibentuk oleh kepastian regulasi, tetapi juga oleh cara publik memahami peluang pengembangan energi surya di dalam negeri.
Ia mengatakan, investor membutuhkan kepastian pasar, dan salah satu sumber kepastian itu adalah terlihatnya opsi beragam proyek PLTS serta antusiasme masyarakat yang mulai terlihat di berbagai media.
'Liputan tentang penghematan biaya listrik, mudahnya pemasangan PLTS, semua ikut mengurangi keraguan pasar. Ini semua menjadi jembatan agar investasi hijau tertarik masuk ke Indonesia,” ujar Tiza.
Baca juga: METI: Kepastian serapan dan harga penting bagi investasi EBT
Baca juga: Akademisi menilai kepastian pembeli listrik perkuat investasi EBT
Baca juga: Danantara soroti kesiapan industri lokal dalam pengembangan EBT
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Putu Indah Savitri
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira