Sydney (ANTARA) - Perusahaan desain digital asal Australia, Canva, menyatakan pada Rabu (4/11) bahwa lebih dari 1.200 karyawan terkena imbas dari restrukturisasi besar akibat melambatnya pertumbuhan perusahaan.
CEO sekaligus salah satu pendiri Canva, Melanie Perkins, mengatakan dalam sebuah memo kepada karyawan bahwa sebanyak 1.271 orang, atau 22 persen dari total tenaga kerja raksasa teknologi tersebut, akan terdampak oleh restrukturisasi.
"Bagi sebagian orang, ini berarti perubahan pada posisi mereka atau diminta untuk pindah ke pusat-pusat yang tersentralisasi," kata Perkins.
"Ini juga berarti harus mengucapkan selamat tinggal kepada rekan kerja dan kawan-kawan yang telah membantu membangun Canva hingga menjadi seperti sekarang ini."
Dia mengatakan bahwa tim produk, pertumbuhan, dan platform Canva akan digabung menjadi satu organisasi produk, sementara Sydney akan menjadi pusat utama bagi lebih banyak tim produk.
Pengumuman tersebut disampaikan setelah perusahaan yang berbasis di Sydney itu pada Agustus menurunkan proyeksi pendapatannya untuk 2026, dengan memangkas perkiraan pertumbuhan dari 30 persen menjadi 20 persen, serta menurunkan valuasi internalnya menjadi 43,9 miliar dolar Australia (1 dolar Australia = Rp12.680).
Memo Perkins tidak menyebutkan dampak kecerdasan buatan (AI). Namun, Australian Broadcasting Corporation melaporkan bahwa restrukturisasi ini akan mempersiapkan Canva dalam mengembangkan produk-produk terkait AI.
Pewarta: Xinhua
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Xinhua
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira