Jakarta (ANTARA) - Program Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores dilaksanakan untuk mengajak para peserta kegiatan mengenal lebih dekat kehidupan, budaya, dan tradisi masyarakat lokal Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur.

Inisiator Camino de Flores Mari Elka Pangestu menyampaikan bahwa 70 peserta kegiatan itu berjalan kaki sejauh 25,5 kilometer melalui lokasi-lokasi yang merepresentasikan spiritualitas masyarakat Flores serta kekayaan budaya dan tradisi mereka.

"Sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol dengan masyarakat, tidak ada yang tidak menyapa, dan kami merasa disambut dengan sukacita," kata Mari dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin.

Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores dilaksanakan dari 23 sampai 27 Oktober 2026.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta antara lain mengunjungi Gereja Mater Boni Consili (MBC) Bajawa, Gereja Paroki Maria Ratu Semesta Alam, Langa, Kampung Adat Bena, Paroki Rakateda I, dan Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko.

Di Kampung Adat Bena, mereka menyaksikan kekayaan tradisi dan warisan budaya megalitik serta mengenal adat masyarakat Ngada.

Selain itu, mereka makan malam dan beramah tamah bersama para seminaris, imam, pater, serta guru di Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko.

Mari dalam kesempatan itu menyampaikan komitmen untuk membantu perbaikan bangunan seminari yang rusak akibat gempa bumi.

Baca juga: Flores dipromosikan sebagai destinasi wisata religi Katolik unggulan

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini menyampaikan, Camino de Flores berpotensi dikembangkan menjadi opsi layanan wisata terpadu di Pulau Flores.

"Perjalanan ini bukan hanya tentang berjalan kaki, tetapi juga tentang mengenal Flores lebih dekat, menyusuri tempat-tempat yang memiliki nilai spiritual dan budaya, serta berinteraksi dengan masyarakat di sepanjang jalur perjalanan," ia menjelaskan.

"Pengalaman seperti ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari perjalanan yang lebih mendalam dan bermakna," katanya.

Ia mengatakan bahwa pemerintah akan mendukung promosi Camino de Flores sebagai pilihan aktivitas wisata di Pulau Flores.

Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores Andhy MT Marpaung mengatakan bahwa pelaksanaan program Camino de Flores mendukung upaya untuk menjadikan Pulau Flores sebagai tujuan wisata religi Katolik unggulan.

Kegiatan perjalanan yang menghubungkan gereja, kampung adat, pusat pendidikan keagamaan, serta objek wisata alam dan budaya itu diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan ke wilayah Flores.

"Pola perjalanan seperti ini diharapkan juga dapat menambah lama tinggal wisatawan serta persebaran wisatawan sehingga tidak terkonsentrasi pada satu lokasi saja," kata Andhy.

Pengembangan beragam layanan wisata diharapkan dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal, memungkinkan mereka menyediakan layanan dan menawarkan produk lokal kepada lebih banyak wisatawan.

Baca juga: Pengembangan pariwisata dinilai bisa bantu pemulihan Flores pascagempa

Baca juga: Kementerian Pariwisata dorong pengembangan kegiatan "Camino de Flores"​​​​​​​

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Hreeloita Dharma Shanti

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira